KUPAT “Mohon maaf lahir batin”, sebuah kalimat yang lazim kita temui saat momen lebaran Fitri seperti ini. Di sosial media, di televisi, SMS, maupun diucapkan secara langsung saat berkunjung atau bertemu dengan saudara, teman, kenalan, atau siapa pun. Kalimat yang begitu ringan kita ucapkan dan kita terima dengan dada lapang dan jiwa benderang dalam nuansa hari raya yang syahdu. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kalimat permohonan maaf ini sebenarnya sangat dalam. Membutuhkan sebuah energi besar untuk mewujudkannya menjadi sebuah kalimat yang aplikatif, tidak seringan lisan kita saat mengucapkannya atau saat jari-jari kita menyentuh keypad untuk menuliskannya. Mohon maaf secara lahir itu artinya orang yang kita mintai maaf haruslah mafhum kesalahan yang pernah kita perbuat terhadapnya. Dulu, Mbah-mbah kita mengajarkan saat kita nglencer ke rumah tetangga yang pernah kita jahili misalnya, tak cukup sekedar datang, sungkem, lalu minta maaf. Harus ada pengakuan, misalnya; ...