Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Edsii 21 Tandur

TANDUR, DI KEBUN-KEBUN MAIYAH "Wal TANDZUR Nafsun maa Qaddamat li Ghad". Entah kutukan, entah takdir, entah apa yang terjadi pada tanah ini? Tanah yang belum pernah merekah oleh biji cinta Maiyah yang ditanam padanya. Satu biji yang di-Tandur di tanah ini bukannya "anbatat sab'a sanabila" sehingga "fii kulli sumbulatin mi'atu habbah", namun justeru membuat tanah rusak dan kehilangan kesuburan. Bukan salah yang menanam, bukan salah biji tanamannya, dan bukan pula salah tanahnya. Ini semata karena kurangnya kedewasaan kita. Karena dewasa itu berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Telah kita ketahui bahwa setelah Idulfitri 1438 H kita diajak untuk konsentrasi pada kebutuhan hidup yang PRIMER-WAJIB, untuk keluarga kita masing-masing dan jaringan persaudaraan Maiyah. Yang SEKUNDER-SUNNAH untuk luar Maiyah: Ummat Islam, Bangsa dan Negara Indonesia, dan ummat manusia. Karena dewasa itu berarti mandiri dalam mengambil keputusan...