Langsung ke konten utama

Postingan

Edisi 39 NGADHEGO JEJEG

Sinau bareng Jumat, Tgl 24 Mei 2019 Monggo katuran pinarak NGADHEGO JEJEG Untuk edisi kali ini tepatnya dalam proses Merangkai Cinta Untuk Semesta dimulai dengan mencari ketepatan posisi manusia terhadap Tuhan, dan keterkaitan posisi tersebut terhadap para pemeran utama dalam skenario besar Allah terhadap seluruh kehidupan alam semesta ini baik yg tersurat maupun tersirat. Dan kaitannya juga dengan keistimewaan manusia itu sendiri yang dibekali dengan hawa nafsu dan akal pikiran yang seringkali menjadi fasilitas sekaligus ujian. Tergantung bagaimana manusia itu mengolah secara sistemik atau malaka baik untuk ruh maupun jasad agar tetap ngadeg jejeg lan dedheg terhadap Allah dan Rosulullah. Untuk itu kita memakai filosofi pohon kelapa yang sepertinya bisa menggambarkan secara garis besar mengenai ketepatan posisi tersebut. **** Diteliti soko akare serabut, nggambarke menungso kuwi kudu rukun. Senajan cilik-cilik lek bersatu kuwi biso kuat. Wite klopo diarani ...
Postingan terbaru

Edisi 38 Merangkai Cinta Untuk Semesta

RAMPAK OSING Merangkai Cinta Untuk Semesta Adil tidak harus sama. Begitu kata orang-orang tentang keadilan. Begitu juga Allah memperlakukan hamba-Nya. Semua diperlakukan berbeda-beda. Itu bukan sebuah wujud ketidakadilan, tapi itu adalah bukti bahwa Dia Maha Adil. Namun, seberbeda apa pun para hamba diperlakukan oleh Allah, tugas mereka adalah sama yaitu: “Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz dzariyat: 56) Tidak ada secuil pun gerak kita yang bisa lolos dari tanggung jawab terhadap Allah. Maka setiap detik, setiap nafas, setiap sel dalam tubuh kita harus senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah. Tidak ada sepersekian mili pun ruang bagi kita untuk kosong dari tauhid. Karena segala sesuatu dalam diri kita adalah berasal dari Allah. Bahkan diri kita sejatinya tidaklah ada, yang ada hanyalah Dia Yang Maha Wujud. Jadi tidaklah mungkin ada ruang bagi kita untuk menampilkan eksistensi, menonjolkan i...

Edisi 37 Sendang Kahuripan

Majelis Masyarakat Maiyah RAMPAK OSING Banyuwangi Edisi 37 SENDANG KAHURIPAN “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” Koes bersaudara sejak empat dekade lalu telah mengabarkan kepada kita bahwa tanah Nusantara yang kita tinggali ini adalah sepenggal surga yang dianugerahkan untuk kita. Surga sebagai gambaran kesempurnaan hidup dengan ketersediaan segala macam kebutuhan dan kemudahan bagi penghuninya bisa kita rasakan di sini, di Nusantara ini. “Surga seakan pernah bocor dan mencipratkan kenikmatannya di negeri ini,” kata Si Mbah suatu ketika. Apa yang digambarkan oleh dalil-dalil suci tentang surga hampir semua bisa kita temui di sini. Sungai-sungai yang tak henti mengalirkan air jernih, tanah yang subur layaknya ibu hamil yang siap memuntahkan segala isinya untuk siapa pun yang tinggal di atasnya, buah-buahan yang ribuan macam dan jenisnya, batu-batu mulia sebagai lambang puncak kemegahan dunia, semua tersedia di sini. Di perut...

Edisi 36 Bebrayan Agung (Hakaryo ing nyoto)

Bismillah... Salaamun Qoulam Min Robbirrohim. Majelis Masyarakat Maiyah RAMPAK OSING Banyuwangi Edisi 36 BEBRAYAN AGUNG (Hakaryo Ing Nyoto) Hidup adalah menjalani proses. Proses yang sudah dituliskan oleh Sang Pencipta kehidupan. Setiap proses dimulai dari titik awal dan akan berhenti di titik akhir. Pada akhir cerita, setiap manusia akan disidang dan dinilai bagaimana cara ia menjalani kehidupan dalam sebuah pengadilan akhirat yang tidak ada kebohongan dan tidak ada suap-menyuap di sana. Sekecil apa pun olah perbuatan manusia selama di dunia tak ada yang luput dari timbangan dalam persidangan. Karena jalan hidup sudah digariskan oleh Penciptanya, maka rambu-rambu dan perangkat-perangkat untuk menjalaninya tentu sudah disediakan. Tinggal bagaimana manusia menemukan perangkat dan rambu-rambu itu kemudian menjalani hidupnya sesuai dengan yang diinginkan oleh-Nya. Jika kita sebagai manusia, sebagai objek sekaligus subjek dalam tatanan kehidupan ini ingin menja...

Edisi 35 Bebrayan Agung (Nrimo Ing Pandum)

Hidup hanyalah permainan dan senda gurau. Begitu kata Sang Pemilik kehidupan. Namun sebagai pelaku "permainan" kita dituntut untuk bermain dengan baik agar pagelaran kehidupan berjalan dan berakhir dengan indah sesuai skenario yang telah dirancang oleh Sang Sutradara. Segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani peran sudah disediakan oleh Sutradara. Mulai dari perlengkapan jasmani, jiwa, akal, serta hamparan alam semesta sebagai pentas pertunjukan sekaligus properti yang bisa digunakan untuk menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Rambu-rambu berupa firman Tuhan juga sudah dihamparkan, baik yang berupa teks maupun yang berwujud ayat-ayat kehidupan. Tinggal kita, sebagai wayang-wayang kehidupan menjalani peran masing-masing dengan memanfaatkan semua properti yang sudah disediakan. Wayang, semestinya setiap gerak dan lelakunya harus sesuai dengan yang diharapkan oleh dalang. Karena wayang tidak dapat menggerakkan sedikit pun anggota badannya tanpa digerakkan oleh ...

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 33 Persembahan dari surga

Keadilan dan kedamaian sebagai cita-cita setiap manusia dari zaman ke zaman senyatanya tidak selalu terwujud. Di setiap kurun, sejarah selalu mencatat adanya ketidakadilan dan tercerabutnya kedamaian dari kehidupan. Tak jauh beda dengan kehidupan kita zaman ini. Semakin hari semakin kita rasakan bahwa penderitaan dan perpecahan lebih mendominasi alur kehidupan kita baik sebagai masyarakat sebuah negara maupun sebagai masyarakat dunia. Banyak manusia yang mendambakan terciptanya keadilan dan terwujudnya perdamaian seolah semakin putus asa. Mendambakan hal sedemikian terwujud seolah hanya mimpi yang akan lenyap tatkala mata terbuka. Bahkan kita yang merasa terlalu lemah sebagai manusia, tak jarang kemudian menjadi seperti apa yang digambarkan oleh Khalil Gibran dalam puisi yang pernah dinyanyikan oleh Band Dewa 19; "...bahwasanya mereka berkuasa, di atas tangis dan sebuah kekalahan, tapi Dia yang Maha Berkuasa. Kaulah (Jibril) persembahan dari surga, berilah aku s...