Sinau bareng Jumat, Tgl 24 Mei 2019 Monggo katuran pinarak NGADHEGO JEJEG Untuk edisi kali ini tepatnya dalam proses Merangkai Cinta Untuk Semesta dimulai dengan mencari ketepatan posisi manusia terhadap Tuhan, dan keterkaitan posisi tersebut terhadap para pemeran utama dalam skenario besar Allah terhadap seluruh kehidupan alam semesta ini baik yg tersurat maupun tersirat. Dan kaitannya juga dengan keistimewaan manusia itu sendiri yang dibekali dengan hawa nafsu dan akal pikiran yang seringkali menjadi fasilitas sekaligus ujian. Tergantung bagaimana manusia itu mengolah secara sistemik atau malaka baik untuk ruh maupun jasad agar tetap ngadeg jejeg lan dedheg terhadap Allah dan Rosulullah. Untuk itu kita memakai filosofi pohon kelapa yang sepertinya bisa menggambarkan secara garis besar mengenai ketepatan posisi tersebut. **** Diteliti soko akare serabut, nggambarke menungso kuwi kudu rukun. Senajan cilik-cilik lek bersatu kuwi biso kuat. Wite klopo diarani ...
RAMPAK OSING Merangkai Cinta Untuk Semesta Adil tidak harus sama. Begitu kata orang-orang tentang keadilan. Begitu juga Allah memperlakukan hamba-Nya. Semua diperlakukan berbeda-beda. Itu bukan sebuah wujud ketidakadilan, tapi itu adalah bukti bahwa Dia Maha Adil. Namun, seberbeda apa pun para hamba diperlakukan oleh Allah, tugas mereka adalah sama yaitu: “Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz dzariyat: 56) Tidak ada secuil pun gerak kita yang bisa lolos dari tanggung jawab terhadap Allah. Maka setiap detik, setiap nafas, setiap sel dalam tubuh kita harus senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah. Tidak ada sepersekian mili pun ruang bagi kita untuk kosong dari tauhid. Karena segala sesuatu dalam diri kita adalah berasal dari Allah. Bahkan diri kita sejatinya tidaklah ada, yang ada hanyalah Dia Yang Maha Wujud. Jadi tidaklah mungkin ada ruang bagi kita untuk menampilkan eksistensi, menonjolkan i...