Langsung ke konten utama

Edisi 38 Merangkai Cinta Untuk Semesta


RAMPAK OSING
Merangkai Cinta Untuk Semesta

Adil tidak harus sama. Begitu kata orang-orang tentang keadilan. Begitu juga Allah memperlakukan hamba-Nya. Semua diperlakukan berbeda-beda. Itu bukan sebuah wujud ketidakadilan, tapi itu adalah bukti bahwa Dia Maha Adil. Namun, seberbeda apa pun para hamba diperlakukan oleh Allah, tugas mereka adalah sama yaitu:
“Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz dzariyat: 56)
Tidak ada secuil pun gerak kita yang bisa lolos dari tanggung jawab terhadap Allah. Maka setiap detik, setiap nafas, setiap sel dalam tubuh kita harus senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah. Tidak ada sepersekian mili pun ruang bagi kita untuk kosong dari tauhid. Karena segala sesuatu dalam diri kita adalah berasal dari Allah. Bahkan diri kita sejatinya tidaklah ada, yang ada hanyalah Dia Yang Maha Wujud. Jadi tidaklah mungkin ada ruang bagi kita untuk menampilkan eksistensi, menonjolkan identitas dan jati diri atas yang lain. Karena memang sesungguhnya kita tidaklah memiliki apa-apa. Yang harus kita lakukan hanyalah bertauhid kepadaNya.
Namun, sebagai manusia yang dibekali hawa dan nafsu, menemukan kesadaran eksistensi Allah atas diri kita tidaklah mudah. Banyak rintangan dan cobaan yang harus kita hadapi. Dan rintangan itu tidak akan pernah benar-benar hilang sampai ruh kita dipanggil kembali untuk menemui-Nya. Nah dalam berproses menemukan kesadaran eksistensi Allah atas diri kita itulah kita seringkali kalah. Kadang kita kalah sejak awal pertarungan, kadang tumbang di tengah jalan, bahkan ada pula yang terlena oleh godaan ketika sudah mendekati ujung perjuangan. Maka berusaha tetap teguh memegang tauhid sampai ujung nafas adalah mutlak untuk dilakukan. Dan peperangan dalam diri semacam ini adalah perang terberat yang pernah kita hadapi selama kita hidup di alam fana ini. Karena kita harus berperang untuk mengalahkan diri kita sendiri, memenggal ego dan kesombongan sendiri, memberangus hawa nafsu kita sendiri.
Ketika sudah sampai masanya Allah menghendaki kita memenangkan perang atas diri kita sendiri, maka saat itulah kita sudah menemukan kembali Nur Ahmad dalam diri kita. Namun itu bukanlah akhir dari perang itu sendiri. Karena tugas kita selanjutnya adalah memancarkan cahaya itu ke seluruh alam semesta agar setiap detak kehidupan di dalam semesta ini memancarkan cahaya yang sama yaitu cahaya yang terpuji, Nur Muhammad, yang menjadi alasan Allah menciptakan seluruh alam semesta ini. Jika kita berhenti pada euphoria atas kemenangan kita terhadap diri kita sendiri lalu mencegah diri dari tugas memancarkan cahaya itu ke seluruh alam semesta agar memancarkan cahaya yang sama, maka saat itu pula kita sebenarnya sedang berada di ujung kekalahan. Kita telah kalah oleh rasa bangga atas kemenangan kita, kita telah kalah oleh rasa untuk menunjukkan eksistensi diri dan golongan, dan kita telah gagal menyawijikan diri kita dengan Dzat Yang Wujud. Kita lalai bahwa sebenarnya kita tidaklah ada. Hanya Dia Yang Maha Ada.

Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
Fanspage                     : Rampak Osing
Instagram                    : @rampakosing
Twitter                        : @RampakOsing
Prolog Rutinan            : https://rampakosingprolog.blogspot.com
Reportase Rutinan      : https://rampakosing.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...