RAMPAK OSING
Merangkai Cinta Untuk Semesta
Adil tidak harus sama. Begitu kata orang-orang
tentang keadilan. Begitu juga Allah memperlakukan hamba-Nya. Semua diperlakukan
berbeda-beda. Itu bukan sebuah wujud ketidakadilan, tapi itu adalah bukti bahwa
Dia Maha Adil. Namun, seberbeda apa pun para hamba diperlakukan oleh Allah,
tugas mereka adalah sama yaitu:
“Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia
kecuali hanya untuk menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz dzariyat: 56)
Tidak ada secuil pun gerak kita yang bisa lolos dari
tanggung jawab terhadap Allah. Maka setiap detik, setiap nafas, setiap sel
dalam tubuh kita harus senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah. Tidak ada
sepersekian mili pun ruang bagi kita untuk kosong dari tauhid. Karena segala
sesuatu dalam diri kita adalah berasal dari Allah. Bahkan diri kita sejatinya
tidaklah ada, yang ada hanyalah Dia Yang Maha Wujud. Jadi tidaklah mungkin ada
ruang bagi kita untuk menampilkan eksistensi, menonjolkan identitas dan jati
diri atas yang lain. Karena memang sesungguhnya kita tidaklah memiliki apa-apa.
Yang harus kita lakukan hanyalah bertauhid kepadaNya.
Namun, sebagai manusia yang dibekali hawa dan nafsu,
menemukan kesadaran eksistensi Allah atas diri kita tidaklah mudah. Banyak
rintangan dan cobaan yang harus kita hadapi. Dan rintangan itu tidak akan
pernah benar-benar hilang sampai ruh kita dipanggil kembali untuk menemui-Nya.
Nah dalam berproses menemukan kesadaran eksistensi Allah atas diri kita itulah
kita seringkali kalah. Kadang kita kalah sejak awal pertarungan, kadang tumbang
di tengah jalan, bahkan ada pula yang terlena oleh godaan ketika sudah
mendekati ujung perjuangan. Maka berusaha tetap teguh memegang tauhid sampai
ujung nafas adalah mutlak untuk dilakukan. Dan peperangan dalam diri semacam
ini adalah perang terberat yang pernah kita hadapi selama kita hidup di alam
fana ini. Karena kita harus berperang untuk mengalahkan diri kita sendiri,
memenggal ego dan kesombongan sendiri, memberangus hawa nafsu kita sendiri.
Ketika sudah sampai masanya Allah menghendaki kita
memenangkan perang atas diri kita sendiri, maka saat itulah kita sudah
menemukan kembali Nur Ahmad dalam diri kita. Namun itu bukanlah akhir dari
perang itu sendiri. Karena tugas kita selanjutnya adalah memancarkan cahaya itu
ke seluruh alam semesta agar setiap detak kehidupan di dalam semesta ini
memancarkan cahaya yang sama yaitu cahaya yang terpuji, Nur Muhammad, yang
menjadi alasan Allah menciptakan seluruh alam semesta ini. Jika kita berhenti
pada euphoria atas kemenangan kita terhadap diri kita sendiri lalu mencegah
diri dari tugas memancarkan cahaya itu ke seluruh alam semesta agar memancarkan
cahaya yang sama, maka saat itu pula kita sebenarnya sedang berada di ujung
kekalahan. Kita telah kalah oleh rasa bangga atas kemenangan kita, kita telah
kalah oleh rasa untuk menunjukkan eksistensi diri dan golongan, dan kita telah
gagal menyawijikan diri kita dengan Dzat Yang Wujud. Kita lalai bahwa
sebenarnya kita tidaklah ada. Hanya Dia Yang Maha Ada.
Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter :
@RampakOsing
Prolog Rutinan :
https://rampakosingprolog.blogspot.com
Reportase Rutinan : https://rampakosing.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar