Majelis Masyarakat Maiyah
Rampak Osing Banyuwangi
edisi 34
Rampak Osing Banyuwangi
edisi 34
BEBRAYAN
AGUNG
( Babakan jatidiri )
( Babakan jatidiri )
“Wong
Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara
harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan
kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita
sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara
etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita
yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini.
Masyarakat
Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita
pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan
mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini.
Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari
keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan
sebagian kecil itu sudah banyak yang direkayasa untuk ‘mengkerdilkan’ kita
sebagai pewaris peradaban luhur itu. Maka ketika ‘kejawaan’ kita hilang hari
ini, itu sudah dirancang dan direncanakan oleh "mereka".
Bukan
hanya tentang peradaban dan kebudayaan, bangsa Jawa adalah bangsa memiliki
ketauhidan yang paripurna. Jauh sebelum para sufi mendakwahkan agama Islam,
masyarakat Jawa sudah menyembah Sang Hyang Wenang yang memiliki sifat “tan
kinaya ngapa”. Mereka sudah melaksanakan upawasa (puasa) selama 40 hari, tempat
ibadah mereka bernama “Sanggar” yang kemudian oleh masyarakat muslim Jawa
disebut “Langgar”. Maka tak heran ketika para dai keturunan Rasulullah yang
terhimpun dalam majelis dakwah bernama Wali Sanga melakukan pendekatan budaya
dalam memperkanalkan Islam, masyarakat Jawa menyambut dengan tangan terbuka
karena banyak kesamaan lelaku spiritual antara yang diajarkan para wali dengan
yang mereka jalani. Tumbu ketemu tutup. Masyarakat Jawa adalah tumbu dan Islam
adalah tutupnya. Hanya di tanah Jawa lah Islam tersebar secara massif tanpa
pertumpahan darah.
Lalu
kenapa sekarang kita kehilangan jati diri kita sebagai Bangsa Jawa?
Mari
kita fahami siapa dan bagaimana leluhur kita. Mereka adalah manusia-manusia
“lelaku”, manusia yang menyerap ajaran dan melaksanakan titah Tuhan dengan
lelaku. Menjalani kehidupan bukan perkara seberapa banyak teks-teks
kebijaksanaan yang berhasil diserap oleh akal, tapi seberapa sadar seorang manusia
terhadap kesejatian diri dan seberapa mampu manusia itu mewujudkan kesadarannya
menjadi sebuah lelaku. Nenek moyang kita bangsa nusantara sudah melakukan itu
sejak dahulu. Maka ketika teori-teori tentang lelaku kehidupan yang berupa
syariat agama Islam diajarkan oleh para sufi, mereka dengan mudah menerima dan
mencerna. Maka tugas kita sekarang adalah menemukan kembali jati diri Bangsa
Jawa, Bangsa Nusantara yang sudah mulai tak bisa dikenali itu.
“Gedekno
wadahmu rek,” pesan Si Mbah suatu ketika.
Besarkan
wadahmu, luaskan jiwamu, untuk menerima anugerah agung dari Dzat Kang Murbeng
Dumadi. Karena mengemban tugas menemukan kembali jati diri itu bukanlah sesuatu
yang ringan untuk dilaksanakan, maka dibutuhkan jiwa-jiwa yang benar-benar
memiliki kesadaran wayang. Kesadaran bahwa kita ini hanya pelaksana, kita hanya
dipinjami raga sebagai sarana. Hanya Allah-lah sejatinya yang menggerakkan.
Dia-lah dalang dalam pagelaran kehidupan ini. Maka tak ada sebutir debu pun hak
kita sebagai makhluk untuk memiliki kesadaran dalang.
Kosongkan
hatimu dari nafsu, dari syahwat-syahwat remeh duniawi, maka jiwamu akan menjadi
lapang. Allah hanya memilih orang-orang yang memilki hati bersih untuk
mengemban titah-Nya. Hanya mereka yang merendahkan logikanya dan meninggikan
kesadarannya lah yang dipercaya untuk melaksanakan tugas berat itu. Selama
dalam hatimu masih bersemayam rasa ‘keakuan’, maka akan sulit bagimu menerima
ilham itu. Tegakkan kesadaranmu, kosongkan ke-diri-anmu, bersatulah dengan
Tuhan-mu. Manunggaling kawula Gusti. Jika kesadaranmu sudah manunggal, Dia akan
menunjukkan isyarah kemana kakimu harus melangkah, apa yang harus lisanmu
ucapkan, apa yang harus tanganmu kerjakan.
Bersegeralah,
bersama-sama, secara ‘rampak’, memasuki alam ‘osing’. ‘Rampak’ berarti bersama,
kesadaran secara berjamaah. ‘Osing’ berarti tidak, laa, tiada. Engkau, kalian,
alam semesta ini sejatinya tiada. Yang ada hanya Allah ‘azza wa jalla.
Allah
menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Seorang khalifah bukanlah raja,
dia bukan penguasa. Tugas seorang khalifah adalah melayani sesama. Raja yang
sesungguhnya adalah Dia Yang Maha Menguasai. Jika engkau sudah menemukan
Tuhanmu dalam dirimu, telah engkau layani sesamamu sebagai wujud
kekhalifahanmu, maka bersiaplah untuk upacara ‘bebrayan agung’. Pernikahan
antara masa lalu dan masa depan. Mereka yang pernah mengiringi perjalanan
nusantara ini menunggu kesiapanmu untuk meneruskan tugas mereka. Nusantara
adalah masa lalu, dan Nusantara adalah masa depan. Pesta agung akan segera
digelar. Siapkan dirimu, gedekno wadahmu, jembarno atimu, Sehingga kamu tahu
siapa kamu dan apa tugasmu ! Su !
Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
085236999911 : Mas Endy
Media
Sosial :
Website : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing
Website : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing

Komentar
Posting Komentar