PAKUNJARAN
Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut?
Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan?
Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuasakan hati dari syahwat. Kalau Cuma puasa ragawi, bukankah ular lebih kuat dari manusia? Sekali sahur, seekor ular bisa berpuasa sampai satu bulan. Maka yang membedakan manusia dengan hewan dalam berpuasa adalah puasa yang bersifat ruhani.
Jika kita merasa tenang saat mendekati akhir Ramadhan kebutuhan akan pakaian baru dan aneka rupa kue sudah tersedia lalu hati tak sabar menyambut datangnya hari raya dan merasa suntuk saat itu semua belum dapat kita penuhi, kemudian dengan bahagia mengatakan ‘hari raya adalah hari kemenangan’, menang setelah satu bulan menahan diri dari godaan syahwat duniawi, maka itu seolah kita sedang mengatakan bahwa Ramadhan adalah penjara. Kalau kita merasa sedang ‘dipenjara’ oleh Ramadahan, lalu dimana letaknya keberkahan dan maghfiroh Ramadhan yang sering kita gaungkan?
Selama bulan puasa kita berusaha sekuat tenaga menghindari segala hal yang membuahkan dosa, karena bisa menggugurkan pahala puasa. Lalu setelah hari raya tiba, kita merasa kembali ‘boleh’ melakukan dosa-dosa yang susah payah kita hindari selama puasa. Lalu di mana letak nikmatnya ibadah kita kalau hanya untuk mengikuti aturan semata kemudian merasa menang setelah berhasil melaluinya?
Bukankah berhasil melalui ujian itu sebuah kemenangan?
Mungkin di situ letak kesalahan kita. Kita sering menganggap puasa sebagai ujian. Bukan sebagai hidangan lezat dari Tuhan yang harus kita nikmati sebagaimana kita menikmati panasnya api rokok. Meskipun sedang menghisap api, seorang perokok sangat menikmati sensasi panas itu dan berharap batang rokoknya tidak cepat habis, kalau bisa jangan sampai habis. Mestinya seperti itulah seorang muslim menjalani Ramadhan. Seperti yang terjadi di masa lampau.
Suatu malam di malam terakhir bulan Ramadhan, seorang lelaki menangis di sudut Masjid Nabawi. Tangis yang begitu dalam, begitu tulus, sampai air matanya membasahi jenggot dan sebagian pakaiannya. Lelaki itu adalah sahabat Nabi yang terbaik, manusia paling halus budinya, Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Para sahabat yang sedang i'tikaf di sebelah beliau sampai keheranan, apa yang menyebabkan Abu Bakar sampai menangis sedemikian rupa?
Maka setelah pagi hari ketika tangis Abu Bakar sudah reda, para sahabat memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Abu Bakar, apakah yang terjadi padamu semalam? Kenapa engkau menangis sampai hampir pingsan?”
“Aku menangis karena hari ini adalah hari terakhir Allah menyuguhkan hidangan terlezat-Nya, yaitu bulan Ramadhan. Seandainya boleh, aku berharap seluruh bulan dalam setahun dijadikan sebagai bulan Ramadhan, sehingga aku bisa selalu mencerap kelezatannya.”
Mendengar jawaban Abu Bakar, mafhum para sahabat siapa manusia berderajat tinggi ini. Tak salah kiranya Kanjeng Nabi menyebut Abu Bakar sebagai sahabat terbaik.
Pada bulan Ramadhan seperti ini, setan-setan dibelenggu, dipenjara, tidak diperbolehkan membisiki manusia. Sehingga pada bulan puasa begini, manusia menunjukkan 'wujud aslinya'. Jika dia merasa bahagia karena menikmati hidangan lezat suguhan Tuhan, maka dialah “alladzina amanu” yang dipanggil oleh Allah untuk menunjukkan kemampuannya memasuki gerbang “muttaqin”. Tapi, jika dia merasa bahwa puasa adalah ujian, merasa terpenjara, mungkin gelaran yang pantas adalah gentho.
LINGKAR MAIYAH BANYUWANGI “RAMPAK OSING” Edisi #16, Selasa 06 Juni 2017.
Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut?
Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan?
Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuasakan hati dari syahwat. Kalau Cuma puasa ragawi, bukankah ular lebih kuat dari manusia? Sekali sahur, seekor ular bisa berpuasa sampai satu bulan. Maka yang membedakan manusia dengan hewan dalam berpuasa adalah puasa yang bersifat ruhani.
Jika kita merasa tenang saat mendekati akhir Ramadhan kebutuhan akan pakaian baru dan aneka rupa kue sudah tersedia lalu hati tak sabar menyambut datangnya hari raya dan merasa suntuk saat itu semua belum dapat kita penuhi, kemudian dengan bahagia mengatakan ‘hari raya adalah hari kemenangan’, menang setelah satu bulan menahan diri dari godaan syahwat duniawi, maka itu seolah kita sedang mengatakan bahwa Ramadhan adalah penjara. Kalau kita merasa sedang ‘dipenjara’ oleh Ramadahan, lalu dimana letaknya keberkahan dan maghfiroh Ramadhan yang sering kita gaungkan?
Selama bulan puasa kita berusaha sekuat tenaga menghindari segala hal yang membuahkan dosa, karena bisa menggugurkan pahala puasa. Lalu setelah hari raya tiba, kita merasa kembali ‘boleh’ melakukan dosa-dosa yang susah payah kita hindari selama puasa. Lalu di mana letak nikmatnya ibadah kita kalau hanya untuk mengikuti aturan semata kemudian merasa menang setelah berhasil melaluinya?
Bukankah berhasil melalui ujian itu sebuah kemenangan?
Mungkin di situ letak kesalahan kita. Kita sering menganggap puasa sebagai ujian. Bukan sebagai hidangan lezat dari Tuhan yang harus kita nikmati sebagaimana kita menikmati panasnya api rokok. Meskipun sedang menghisap api, seorang perokok sangat menikmati sensasi panas itu dan berharap batang rokoknya tidak cepat habis, kalau bisa jangan sampai habis. Mestinya seperti itulah seorang muslim menjalani Ramadhan. Seperti yang terjadi di masa lampau.
Suatu malam di malam terakhir bulan Ramadhan, seorang lelaki menangis di sudut Masjid Nabawi. Tangis yang begitu dalam, begitu tulus, sampai air matanya membasahi jenggot dan sebagian pakaiannya. Lelaki itu adalah sahabat Nabi yang terbaik, manusia paling halus budinya, Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Para sahabat yang sedang i'tikaf di sebelah beliau sampai keheranan, apa yang menyebabkan Abu Bakar sampai menangis sedemikian rupa?
Maka setelah pagi hari ketika tangis Abu Bakar sudah reda, para sahabat memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Abu Bakar, apakah yang terjadi padamu semalam? Kenapa engkau menangis sampai hampir pingsan?”
“Aku menangis karena hari ini adalah hari terakhir Allah menyuguhkan hidangan terlezat-Nya, yaitu bulan Ramadhan. Seandainya boleh, aku berharap seluruh bulan dalam setahun dijadikan sebagai bulan Ramadhan, sehingga aku bisa selalu mencerap kelezatannya.”
Mendengar jawaban Abu Bakar, mafhum para sahabat siapa manusia berderajat tinggi ini. Tak salah kiranya Kanjeng Nabi menyebut Abu Bakar sebagai sahabat terbaik.
Pada bulan Ramadhan seperti ini, setan-setan dibelenggu, dipenjara, tidak diperbolehkan membisiki manusia. Sehingga pada bulan puasa begini, manusia menunjukkan 'wujud aslinya'. Jika dia merasa bahagia karena menikmati hidangan lezat suguhan Tuhan, maka dialah “alladzina amanu” yang dipanggil oleh Allah untuk menunjukkan kemampuannya memasuki gerbang “muttaqin”. Tapi, jika dia merasa bahwa puasa adalah ujian, merasa terpenjara, mungkin gelaran yang pantas adalah gentho.
LINGKAR MAIYAH BANYUWANGI “RAMPAK OSING” Edisi #16, Selasa 06 Juni 2017.

Komentar
Posting Komentar