Langsung ke konten utama

Edisi 37 Sendang Kahuripan




Majelis Masyarakat Maiyah
RAMPAK OSING Banyuwangi
Edisi 37

SENDANG KAHURIPAN

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” Koes bersaudara sejak empat dekade lalu telah mengabarkan kepada kita bahwa tanah Nusantara yang kita tinggali ini adalah sepenggal surga yang dianugerahkan untuk kita. Surga sebagai gambaran kesempurnaan hidup dengan ketersediaan segala macam kebutuhan dan kemudahan bagi penghuninya bisa kita rasakan di sini, di Nusantara ini.

“Surga seakan pernah bocor dan mencipratkan kenikmatannya di negeri ini,” kata Si Mbah suatu ketika. Apa yang digambarkan oleh dalil-dalil suci tentang surga hampir semua bisa kita temui di sini. Sungai-sungai yang tak henti mengalirkan air jernih, tanah yang subur layaknya ibu hamil yang siap memuntahkan segala isinya untuk siapa pun yang tinggal di atasnya, buah-buahan yang ribuan macam dan jenisnya, batu-batu mulia sebagai lambang puncak kemegahan dunia, semua tersedia di sini. Di perut ibu pertiwi bernama Nusantara. Bahkan peradaban manusia paling maju di seluruh bumi, tumbuh di sini.

Lalu kenapa sekarang penduduk Nusantara yang mendiami wilayah paling kaya dan memiliki peradaban paling maju di seluruh bumi ini justru menjadi manusia-manusia yang rakus seolah takut kelaparan? Mereka saling berebut kuasa, berebut makanan, berebut harta benda, berebut apa saja seolah mereka hidup di padang tandus yang hanya bisa makan hanya jika mampu menyingkirkan saudaranya agar makanan yang (seolah) sedikit itu tidak harus berbagi dengan sesamanya. Mereka hidup di dalam lumbung tetapi mereka seolah harus saling bunuh untuk sekedar bisa makan. Mereka berada dalam sendang yang dipenuhi dengan air kehidupan, tapi mereka seolah harus saling tikam untuk memperoleh seteguk air pelepas dahaga. Ada apa sebenarnya dengan para pewaris surga bernama Nusantara ini?

Jawabannya adalah karena para pewaris bumi Nusantara telah lupa siapa diri mereka sebenarnya. Mereka adalah singa tapi merasa keturunan kucing. Mereka adalah elang namun merasa sebagai keturunan emprit. Mereka semestinya sadar bahwa mereka mewarisi kekayaan alam, peradaban, dan kebudayaan yang melimpah dan agung. Kekayaan yang melimpah yang selama ini hanya bisa mereka pandang dan mereka bayangkan, sebenarnya adalah milik mereka. Di sinilah Allah membentangkan tumbu kehidupan. Di sinilah Allah memancangkan sendang kahuripan.

Seharusnya mereka menjalani kehidupan ini membentuk sebuah lingkaran yang mengerucut menuju satu titik. Menuju sendang kahuripan. Sementara pada kenyataannya mereka justru menempuh hidup dengan membuat lingkaran yang semakin melebar dan menjauhi titik inti kehidupan itu sendiri. Para ksatria dan rakyat jelata pewaris kekayaan Nusantara semakin menjauh dari warisan para leluhurnya. Meninggalkan titik inti lumbung kehidupan mereka, sendang kahuripan.

Sudah saatnya para ksatria itu bangkit. Membentuk barisan, menata shaf-shaf, menggiring kembali seluruh pribumi Nusantara melawan arus lingkaran yang selama ini mereka lalui. Membalik arus menuju titik inti kehidupan, meneguk kembali kemuliaan hidup dari sendang yang membentang, membangkitkan kembali kejayaan dan kemuliaan para leluhur yang dulu pernah menghiasi jagad raya. Nusantara sedang menggeliat untuk kemudian bangkit dari tidur panjangnya. Menumpas segala wujud kerakusan dan ketidakadilan, menegakkan kembali kejayaan Nusantara yang gemah ripah loh jinawi.

Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
081232955708 : Mas Wawan

Media Sosial :
Website           https://rampakosingprolog.blogspot.com/
Fanspage        : Rampak Osing
Instagram       : @rampakosing
Twitter            : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...