Keadilan dan kedamaian
sebagai cita-cita setiap manusia dari zaman ke zaman senyatanya tidak selalu
terwujud. Di setiap kurun, sejarah selalu mencatat adanya ketidakadilan dan
tercerabutnya kedamaian dari kehidupan. Tak jauh beda dengan kehidupan kita zaman
ini. Semakin hari semakin kita rasakan bahwa penderitaan dan perpecahan lebih
mendominasi alur kehidupan kita baik sebagai masyarakat sebuah negara maupun
sebagai masyarakat dunia.
Banyak manusia yang
mendambakan terciptanya keadilan dan terwujudnya perdamaian seolah semakin
putus asa. Mendambakan hal sedemikian terwujud seolah hanya mimpi yang akan
lenyap tatkala mata terbuka. Bahkan kita yang merasa terlalu lemah sebagai
manusia, tak jarang kemudian menjadi seperti apa yang digambarkan oleh Khalil
Gibran dalam puisi yang pernah dinyanyikan oleh Band Dewa 19;
"...bahwasanya
mereka berkuasa,
di atas tangis dan
sebuah kekalahan,
tapi Dia yang Maha
Berkuasa.
Kaulah (Jibril)
persembahan dari surga,
berilah aku setitik
kuasa Nya,
tuk meraih kemenangan
bagi yang berhak,
yang selalu
dilindas-lindas tirani yang membawa nama Nya."
Saking geregetannya,
Gibran sampai memohon agar disebarkan
burung ababil dan menghujani para penguasa lalim dengan batu api dari neraka
yang pernah meluluhlantakkan pasukan Raja Abrahah. Mungkin demikian juga yang
kita rasakan sebagai bagian dari masyarakat melihat ketidakadilan yang semakin
membuat dunia terasa panas.
Kawan, tahukah kalian
bahwa putus asa adalah bisikan setan? Sebagai khalifah Allah di muka bumi kita
memang diberi tanggung jawab untuk membuat bumi ini nyaman untuk ditinggali
oleh manusia dan seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Tapi sebagai makhluk
yang hanya berkewajiban menjalankan titah Sang Pencipta, kita tidak berhak
menentukan hasil setiap usaha. Tugas kita hanya ikhtiar, menjalankan tugas yang
diembankan. Orang-orang yang berputus asa tatkala melihat perjuangannya
mengakkan keadilan dan menciptakan bumi yang ramah untuk ditinggali oleh semua
makhluk adalah orang-orang yang menggantungkan hatinya pada usaha, bukan kepada
Sang Pemilik segalanya.
Mari kita menundukkan
hati kita. Mari renungkan esensi penciptaan kita.
"Aku tidak
menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu."
Bukankah demikian pesan
Allah kepada kita sang khalifah fil ardl? Maka niatkanlah apa pun yang kita
lakukan untuk beribadah. Berjuang adalah ibadah, bekerja adalah ibadah, merajut
persaudaraan adalah ibadah, menjalin persatuan adalah ibadah, apa pun saja adalah ibadah. Jika sudah
demikian maka kita akan bisa merasakan bahwa benar-benar Allah selalu bersama
kita, dalam setiap gerak langkah kita, mengiringi perjuangan kita.
Setiap apa pun yang
kita lihat, yang tampak adalah Allah. Di mana pun kita sedang berada, yang
terasa adalah kehadiran Allah. Jiwa kita akan selalu dipenuhi rasa rindu. Rindu
untuk selalu bersamaNya.
Demikianlah jika Nur
Ahmad yang menjadi alasan penciptaan alam semesta ini telah menyatu dengan jiwa
kita. Dimana dan kemana pun selalu kita rasakan kehadiran Sang Kekasih, hendak
beraktifitas apa pun yang kita ingat hanyalah Dia. Dan tatakala kita berhadapan
dengan sesama makhluk, maka yang terpancar dari nur itu adalah kasih sayang.
Raufur rahim. Dua sifat Allah yang Dia sematkan untuk KekasihNya, Kanjeng Nabi
Muhammad.
Jika yang kita serapa
adalah Nur Ahmad, cahaya Kanjeng Nabi Muhammad, maka yang akan terpencar dari
perilaku kita adalah keteladanan akhlaq Nabi Ahmad. Jika yang kita teladani
adalah akhlaq mulia Sang Baginda, tiada tempat bagi hati kita selain untuk
merindui Sang Pencipta, meneladani akhlak mulia Kanjeng Nabi, dan mengasihi
sesama manusia.
Ajaran Sang Nabi adalah
akhlak, senjata beliau adalah kasih sayang. Beliau adalah pemimpin yang
sesungguhnya. Yang menempatkan umat yang dipimpin dan dibimbing sebagai
prioritas. Hingga saat nafas terakhir beliau pun yang beliau sebut dan beliau
khawatirkan adalah "ummatiy, ummatiy, ummaty."
Bahkan jauh sebelum
kita lahir, sejak 14 abad lalu hingga akhir zaman, semua manusia, seluruh
umatnya ingin beliau rangkul dalam cahaya kasihnya.
Dalam maulid ini semoga
kita semua dpt menemukan nur ahmad didiri kita seperti Makna telor yg selalu
dipakai simbol perayaan maulid nabi di timur pulau Jawa ini yaitu 4 lapisan
telur sebagai 4 sifat kanjeng nabi, lahirkanlah lahirlah kesadaran baru didiri
kita sehingga semua kembali ke FITRAHnya.
Rabbi fanfa'na
bibarkatihim,
Wahdinal husna
bihurmatihim,
Wa amitna fi
thariqatihim,
Wa muafatin
minal fitani.

Komentar
Posting Komentar