Langsung ke konten utama

Edisi 33 Persembahan dari surga



Keadilan dan kedamaian sebagai cita-cita setiap manusia dari zaman ke zaman senyatanya tidak selalu terwujud. Di setiap kurun, sejarah selalu mencatat adanya ketidakadilan dan tercerabutnya kedamaian dari kehidupan. Tak jauh beda dengan kehidupan kita zaman ini. Semakin hari semakin kita rasakan bahwa penderitaan dan perpecahan lebih mendominasi alur kehidupan kita baik sebagai masyarakat sebuah negara maupun sebagai masyarakat dunia.
Banyak manusia yang mendambakan terciptanya keadilan dan terwujudnya perdamaian seolah semakin putus asa. Mendambakan hal sedemikian terwujud seolah hanya mimpi yang akan lenyap tatkala mata terbuka. Bahkan kita yang merasa terlalu lemah sebagai manusia, tak jarang kemudian menjadi seperti apa yang digambarkan oleh Khalil Gibran dalam puisi yang pernah dinyanyikan oleh Band Dewa 19;

"...bahwasanya mereka berkuasa,
di atas tangis dan sebuah kekalahan,
tapi Dia yang Maha Berkuasa.
Kaulah (Jibril) persembahan dari surga,
berilah aku setitik kuasa Nya,
tuk meraih kemenangan bagi yang berhak,
yang selalu dilindas-lindas tirani yang membawa nama Nya."

Saking geregetannya, Gibran sampai memohon  agar disebarkan burung ababil dan menghujani para penguasa lalim dengan batu api dari neraka yang pernah meluluhlantakkan pasukan Raja Abrahah. Mungkin demikian juga yang kita rasakan sebagai bagian dari masyarakat melihat ketidakadilan yang semakin membuat dunia terasa panas.
Kawan, tahukah kalian bahwa putus asa adalah bisikan setan? Sebagai khalifah Allah di muka bumi kita memang diberi tanggung jawab untuk membuat bumi ini nyaman untuk ditinggali oleh manusia dan seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Tapi sebagai makhluk yang hanya berkewajiban menjalankan titah Sang Pencipta, kita tidak berhak menentukan hasil setiap usaha. Tugas kita hanya ikhtiar, menjalankan tugas yang diembankan. Orang-orang yang berputus asa tatkala melihat perjuangannya mengakkan keadilan dan menciptakan bumi yang ramah untuk ditinggali oleh semua makhluk adalah orang-orang yang menggantungkan hatinya pada usaha, bukan kepada Sang Pemilik segalanya.

Mari kita menundukkan hati kita. Mari renungkan esensi penciptaan kita.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu."
Bukankah demikian pesan Allah kepada kita sang khalifah fil ardl? Maka niatkanlah apa pun yang kita lakukan untuk beribadah. Berjuang adalah ibadah, bekerja adalah ibadah, merajut persaudaraan adalah ibadah, menjalin persatuan adalah ibadah,  apa pun saja adalah ibadah. Jika sudah demikian maka kita akan bisa merasakan bahwa benar-benar Allah selalu bersama kita, dalam setiap gerak langkah kita, mengiringi perjuangan kita.
Setiap apa pun yang kita lihat, yang tampak adalah Allah. Di mana pun kita sedang berada, yang terasa adalah kehadiran Allah. Jiwa kita akan selalu dipenuhi rasa rindu. Rindu untuk selalu bersamaNya.
Demikianlah jika Nur Ahmad yang menjadi alasan penciptaan alam semesta ini telah menyatu dengan jiwa kita. Dimana dan kemana pun selalu kita rasakan kehadiran Sang Kekasih, hendak beraktifitas apa pun yang kita ingat hanyalah Dia. Dan tatakala kita berhadapan dengan sesama makhluk, maka yang terpancar dari nur itu adalah kasih sayang. Raufur rahim. Dua sifat Allah yang Dia sematkan untuk KekasihNya, Kanjeng Nabi Muhammad.
Jika yang kita serapa adalah Nur Ahmad, cahaya Kanjeng Nabi Muhammad, maka yang akan terpencar dari perilaku kita adalah keteladanan akhlaq Nabi Ahmad. Jika yang kita teladani adalah akhlaq mulia Sang Baginda, tiada tempat bagi hati kita selain untuk merindui Sang Pencipta, meneladani akhlak mulia Kanjeng Nabi, dan mengasihi sesama manusia.
Ajaran Sang Nabi adalah akhlak, senjata beliau adalah kasih sayang. Beliau adalah pemimpin yang sesungguhnya. Yang menempatkan umat yang dipimpin dan dibimbing sebagai prioritas. Hingga saat nafas terakhir beliau pun yang beliau sebut dan beliau khawatirkan adalah "ummatiy, ummatiy, ummaty."
Bahkan jauh sebelum kita lahir, sejak 14 abad lalu hingga akhir zaman, semua manusia, seluruh umatnya ingin beliau rangkul dalam cahaya kasihnya.                               
Dalam maulid ini semoga kita semua dpt menemukan nur ahmad didiri kita seperti Makna telor yg selalu dipakai simbol perayaan maulid nabi di timur pulau Jawa ini yaitu 4 lapisan telur sebagai 4 sifat kanjeng nabi, lahirkanlah lahirlah kesadaran baru didiri kita sehingga semua kembali ke FITRAHnya.                               

Rabbi fanfa'na bibarkatihim,
Wahdinal husna bihurmatihim,
Wa amitna fi thariqatihim,

Wa muafatin minal fitani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...