Langsung ke konten utama

Edisi 35 Bebrayan Agung (Nrimo Ing Pandum)


Hidup hanyalah permainan dan senda gurau. Begitu kata Sang Pemilik kehidupan. Namun sebagai pelaku "permainan" kita dituntut untuk bermain dengan baik agar pagelaran kehidupan berjalan dan berakhir dengan indah sesuai skenario yang telah dirancang oleh Sang Sutradara. Segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani peran sudah disediakan oleh Sutradara. Mulai dari perlengkapan jasmani, jiwa, akal, serta hamparan alam semesta sebagai pentas pertunjukan sekaligus properti yang bisa digunakan untuk menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Rambu-rambu berupa firman Tuhan juga sudah dihamparkan, baik yang berupa teks maupun yang berwujud ayat-ayat kehidupan. Tinggal kita, sebagai wayang-wayang kehidupan menjalani peran masing-masing dengan memanfaatkan semua properti yang sudah disediakan.

Wayang, semestinya setiap gerak dan lelakunya harus sesuai dengan yang diharapkan oleh dalang. Karena wayang tidak dapat menggerakkan sedikit pun anggota badannya tanpa digerakkan oleh Sang Dalang. Namun pada kenyataannya, banyak wayang keluar dari fitrahnya. Mereka tidak lagi mengikuti arahan dan petunjuk dari Sang Dalang. Akal budi dan nafsu yang menjadi salah satu komponen yang dibekalkan oleh Sang Dalang ternyata lebih dominan menuntun laku sang wayang dibanding instruksi dari Dalang.
"Sudah saatnya kalian kembali menjadi wayang. Aku-lah satu-satunya Dalang yang berhak dan bisa mengendalikan kalian." Kata Sang Dalang.
Namun hanya segelintir wayang yang mendengar dan mengindahkan instruksi ini. Mereka terlanjur jauh berangan menggantikan posisi Sang Dalang. Mereka lupa bahwa tugas mereka hanyalah untuk sepenuhnya mengabdi kepada Dalang. Tidak ada sebutir pasir pun hak mereka untuk menggantikan posisi itu.
Sang Dalang pun mulai geregetan. Jika para wayang tidak mau kembali kepada fitrahnya, maka mereka harus ditarik secara paksa untuk kembali. Maka diutuslah kaum begawan untuk menyadarkan wayang-wayang lalai itu.
"Kalian harus bertapa. Menempuh jalan sunyi untuk menemukan siapa diri kalian sebenarnya. Kalian harus masuk ke relung gua, ke dasar kawah yang sudah terhampar dalam jiwa-jiwa kalian. "Jatidiri" kalian ada di sana. Kalian harus menemukan diri kalian sendiri agar kalian bisa kembali bersanding dengan wayang-wayang lain di hadapan Sang Dalang." Perintah para begawan suci kepada para wayang mbalelo itu.
Maka mereka pun beramai-ramai masuk ke dalam kesunyian jiwa masing-masing. Dalam pertapaan melawan segala keangkuhan nafsu untuk menemukan diri di kedalaman kawah jiwa itulah hal-hal paling mereka takuti selama ini menjelma menjadi nyata. Berhadap-hadapan. Seolah mereka harus menghadapi makhluk raksasa mengerikan dengan kekuatan ratusan kali lipat dibanding kekuatannya sendiri, namun wujudnya sama dengan perwujudan dirinya. Sementara hanya ada dua pilihan menghadang di depan, mati diterkam raksasa atau bertarung dan keluar sebagai pemenang.
Dengan sepenuh kekuatan dan sisa-sisa keberanian, wayang-wayang itu maju untuk mengalahkan raksasa-raksasa lapar yang bisa melahap mereka dengan sekali terkam. Habis daya dan kekuatan untuk mengalahkan makhluk-makhluk mengerikan itu. Namun mereka bukannya kalah, malah menjadi semakin besar dan mengerikan. Di penghujung nafas yang tinggal satu dua dan tekanan ketakutan yang luar biasa, wayang-wayang itu duduk lemas dan pasrah. Mereka pejamkan mata. Mereka pusatkan pikiran mereka kepada Sang Pencipta Kehidupan, Dia-lah Sang Dalang. Alam semesta ini tak akan ada wujudnya, tanpa ada Dalang. Maka sejatinya, Dia-lah yang Maha Ada. Segala sesuatu selain Dia hanyalah manifestasi perwujudan diri-Nya.
Dalam kepasrahan itulah hawa dingin menyergap jiwa-jiwa yang kelelahan setelah bertempur habis-habisan. Ketenangan tiba-tiba menguatkan semangat mereka. Jika sudah menyatu dengan Sang Pemilik Kehidupan, maka tak ada satu pun kekuatan yang akan membuatnya gentar. Bukankah tiada satu makhluk pun yang bisa menandingi kekuatan-Nya?
Pelan-pelan mata yang beberapa saat lamanya terpejam kembali dibuka. Begitu mata terbuka, yang terhampar bukan lagi pemandangan makhluk-makhluk raksasa yang mengerikan. Namun hamparan luas kasih sayang Ilahi, Dalang semesta. Setiap benda yang terbentur pandangan mata, yang tampak adalah penciptanya. Dalam setiap benda terpancar diri-Nya. Wayang-wayang itu kembali lemas lunglai. Luruh dalam perasaan takjub dan takut. Takjub atas segala ke-Mahaan-Nya, takut akan segala murkanya. Ternyata raksasa-raksasa mengerikan yang mereka takuti selama ini hanyalah hasil imajinasi akal mereka sendiri. Musuh yang mereka takuti selama ini adalah ketakutan mereka sendiri. Kekuatan yang mereka bangga-banggakan selama ini hanyalah angan-angan mereka sendiri.
"Ampun Gusti, ampun. Hamba tak sanggup memandang setiap ciptaan-Mu. Karena pada setiap apa yang hamba pandang, terpancar kehadiran-Mu. Ampun Gusti."
Di puncak kelemahan dan kesadaran setelah pertempuran itulah, wayang-wayang menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Mereka adalah wayang yang benar-benar wayang. Tiada daya dan upaya tanpa digerakkan oleh Sang Dalang. Tugas mereka hanya menjalankan titah. Apa yang diperintahkan itu yang harus dikerjakan, dan apa yang dilarang itu yang harus ditinggalkan.
Pada lubuk kesadaran itulah mereka menemukan bahwa puncak kecerdasan adalah kebodohan, bahwa puncak kekayaan adalah rasa syukur, bahwa puncak kejayaan hidup sebagai wayang adalah ketika mampu menerima segala sesuatu sebagai anugerah dari Sang Pencipta, apa adanya. Penuh dengan kesyukuran. Nerimo ing pandum. Kitab Suci yang berisi firman-firman Tuhan menyebutnya sebagai "qonaah".
Inilah "jatidiri" seorang manusia, "nrimo ing pandum". Menerima segala anugerah Pengeran Kang Murbeng Dumadi, apa pun bentuknya, ikhlas lahir dan batin. Sehingga akan memancar darinya sifat Penciptanya, rahman dan rahim, welas asih terhadap semua ciptaan-Nya. Sikap semacam inilah yang bisa disebut dewasa, Dewo So. Menerima dengan legowo segala pemberian Tuhan, kemudian welas asih melayani sesama makhluk. Karena manusia adalah khalifah yang berperan melayani sesama dan alam semesta.
Tak peduli makhluk lain mengagung-agungkan sebagai wayang digdaya paripurna, yang ada adalah kesadaran bahwa segala kedigdayaan sejatinya hanyalah milik Sang Pencipta. Tak peduli sesiapa pun memuja mereka sebagai pendekar sakti tanpa tanding, ilmuwan linuwih tanpa lawan sebanding, begawan sakti penuh kebijaksanaan. Semua itu tak secuil pun membuat hati mereka melambung. Karena sesungguhnya mereka semua hanyalah wayang. Segala daya upaya yang melekat pada diri mereka hanyalah hiasan yang dititipkan oleh Sang Dalang. Dan tak ada sedikit pun hak mereka untuk berbangga-bangga atasnya, apalagi menyombongkannya.
Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
Website : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...