Hidup hanyalah permainan dan senda gurau. Begitu kata Sang Pemilik kehidupan. Namun sebagai pelaku "permainan" kita dituntut untuk bermain dengan baik agar pagelaran kehidupan berjalan dan berakhir dengan indah sesuai skenario yang telah dirancang oleh Sang Sutradara. Segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani peran sudah disediakan oleh Sutradara. Mulai dari perlengkapan jasmani, jiwa, akal, serta hamparan alam semesta sebagai pentas pertunjukan sekaligus properti yang bisa digunakan untuk menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Rambu-rambu berupa firman Tuhan juga sudah dihamparkan, baik yang berupa teks maupun yang berwujud ayat-ayat kehidupan. Tinggal kita, sebagai wayang-wayang kehidupan menjalani peran masing-masing dengan memanfaatkan semua properti yang sudah disediakan.
Wayang, semestinya setiap gerak dan lelakunya harus sesuai dengan yang diharapkan oleh dalang. Karena wayang tidak dapat menggerakkan sedikit pun anggota badannya tanpa digerakkan oleh Sang Dalang. Namun pada kenyataannya, banyak wayang keluar dari fitrahnya. Mereka tidak lagi mengikuti arahan dan petunjuk dari Sang Dalang. Akal budi dan nafsu yang menjadi salah satu komponen yang dibekalkan oleh Sang Dalang ternyata lebih dominan menuntun laku sang wayang dibanding instruksi dari Dalang.
"Sudah saatnya kalian kembali menjadi wayang. Aku-lah satu-satunya Dalang yang berhak dan bisa mengendalikan kalian." Kata Sang Dalang.
Namun hanya segelintir wayang yang mendengar dan mengindahkan instruksi ini. Mereka terlanjur jauh berangan menggantikan posisi Sang Dalang. Mereka lupa bahwa tugas mereka hanyalah untuk sepenuhnya mengabdi kepada Dalang. Tidak ada sebutir pasir pun hak mereka untuk menggantikan posisi itu.
Sang Dalang pun mulai geregetan. Jika para wayang tidak mau kembali kepada fitrahnya, maka mereka harus ditarik secara paksa untuk kembali. Maka diutuslah kaum begawan untuk menyadarkan wayang-wayang lalai itu.
"Kalian harus bertapa. Menempuh jalan sunyi untuk menemukan siapa diri kalian sebenarnya. Kalian harus masuk ke relung gua, ke dasar kawah yang sudah terhampar dalam jiwa-jiwa kalian. "Jatidiri" kalian ada di sana. Kalian harus menemukan diri kalian sendiri agar kalian bisa kembali bersanding dengan wayang-wayang lain di hadapan Sang Dalang." Perintah para begawan suci kepada para wayang mbalelo itu.
Maka mereka pun beramai-ramai masuk ke dalam kesunyian jiwa masing-masing. Dalam pertapaan melawan segala keangkuhan nafsu untuk menemukan diri di kedalaman kawah jiwa itulah hal-hal paling mereka takuti selama ini menjelma menjadi nyata. Berhadap-hadapan. Seolah mereka harus menghadapi makhluk raksasa mengerikan dengan kekuatan ratusan kali lipat dibanding kekuatannya sendiri, namun wujudnya sama dengan perwujudan dirinya. Sementara hanya ada dua pilihan menghadang di depan, mati diterkam raksasa atau bertarung dan keluar sebagai pemenang.
Dengan sepenuh kekuatan dan sisa-sisa keberanian, wayang-wayang itu maju untuk mengalahkan raksasa-raksasa lapar yang bisa melahap mereka dengan sekali terkam. Habis daya dan kekuatan untuk mengalahkan makhluk-makhluk mengerikan itu. Namun mereka bukannya kalah, malah menjadi semakin besar dan mengerikan. Di penghujung nafas yang tinggal satu dua dan tekanan ketakutan yang luar biasa, wayang-wayang itu duduk lemas dan pasrah. Mereka pejamkan mata. Mereka pusatkan pikiran mereka kepada Sang Pencipta Kehidupan, Dia-lah Sang Dalang. Alam semesta ini tak akan ada wujudnya, tanpa ada Dalang. Maka sejatinya, Dia-lah yang Maha Ada. Segala sesuatu selain Dia hanyalah manifestasi perwujudan diri-Nya.
Dalam kepasrahan itulah hawa dingin menyergap jiwa-jiwa yang kelelahan setelah bertempur habis-habisan. Ketenangan tiba-tiba menguatkan semangat mereka. Jika sudah menyatu dengan Sang Pemilik Kehidupan, maka tak ada satu pun kekuatan yang akan membuatnya gentar. Bukankah tiada satu makhluk pun yang bisa menandingi kekuatan-Nya?
Pelan-pelan mata yang beberapa saat lamanya terpejam kembali dibuka. Begitu mata terbuka, yang terhampar bukan lagi pemandangan makhluk-makhluk raksasa yang mengerikan. Namun hamparan luas kasih sayang Ilahi, Dalang semesta. Setiap benda yang terbentur pandangan mata, yang tampak adalah penciptanya. Dalam setiap benda terpancar diri-Nya. Wayang-wayang itu kembali lemas lunglai. Luruh dalam perasaan takjub dan takut. Takjub atas segala ke-Mahaan-Nya, takut akan segala murkanya. Ternyata raksasa-raksasa mengerikan yang mereka takuti selama ini hanyalah hasil imajinasi akal mereka sendiri. Musuh yang mereka takuti selama ini adalah ketakutan mereka sendiri. Kekuatan yang mereka bangga-banggakan selama ini hanyalah angan-angan mereka sendiri.
"Ampun Gusti, ampun. Hamba tak sanggup memandang setiap ciptaan-Mu. Karena pada setiap apa yang hamba pandang, terpancar kehadiran-Mu. Ampun Gusti."
Di puncak kelemahan dan kesadaran setelah pertempuran itulah, wayang-wayang menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Mereka adalah wayang yang benar-benar wayang. Tiada daya dan upaya tanpa digerakkan oleh Sang Dalang. Tugas mereka hanya menjalankan titah. Apa yang diperintahkan itu yang harus dikerjakan, dan apa yang dilarang itu yang harus ditinggalkan.
Pada lubuk kesadaran itulah mereka menemukan bahwa puncak kecerdasan adalah kebodohan, bahwa puncak kekayaan adalah rasa syukur, bahwa puncak kejayaan hidup sebagai wayang adalah ketika mampu menerima segala sesuatu sebagai anugerah dari Sang Pencipta, apa adanya. Penuh dengan kesyukuran. Nerimo ing pandum. Kitab Suci yang berisi firman-firman Tuhan menyebutnya sebagai "qonaah".
Inilah "jatidiri" seorang manusia, "nrimo ing pandum". Menerima segala anugerah Pengeran Kang Murbeng Dumadi, apa pun bentuknya, ikhlas lahir dan batin. Sehingga akan memancar darinya sifat Penciptanya, rahman dan rahim, welas asih terhadap semua ciptaan-Nya. Sikap semacam inilah yang bisa disebut dewasa, Dewo So. Menerima dengan legowo segala pemberian Tuhan, kemudian welas asih melayani sesama makhluk. Karena manusia adalah khalifah yang berperan melayani sesama dan alam semesta.
Tak peduli makhluk lain mengagung-agungkan sebagai wayang digdaya paripurna, yang ada adalah kesadaran bahwa segala kedigdayaan sejatinya hanyalah milik Sang Pencipta. Tak peduli sesiapa pun memuja mereka sebagai pendekar sakti tanpa tanding, ilmuwan linuwih tanpa lawan sebanding, begawan sakti penuh kebijaksanaan. Semua itu tak secuil pun membuat hati mereka melambung. Karena sesungguhnya mereka semua hanyalah wayang. Segala daya upaya yang melekat pada diri mereka hanyalah hiasan yang dititipkan oleh Sang Dalang. Dan tak ada sedikit pun hak mereka untuk berbangga-bangga atasnya, apalagi menyombongkannya.
Contact Person / WhatsApp :
085236999911 : Mas Endy
085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
Website : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing
Website : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage : Rampak Osing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing

Komentar
Posting Komentar