Langsung ke konten utama

Edsii 21 Tandur



TANDUR, DI KEBUN-KEBUN MAIYAH
"Wal TANDZUR Nafsun maa Qaddamat li Ghad".
Entah kutukan, entah takdir, entah apa yang terjadi pada tanah ini? Tanah yang belum pernah merekah oleh biji cinta Maiyah yang ditanam padanya.
Satu biji yang di-Tandur di tanah ini bukannya "anbatat sab'a sanabila" sehingga "fii kulli sumbulatin mi'atu habbah", namun justeru membuat tanah rusak dan kehilangan kesuburan.
Bukan salah yang menanam, bukan salah biji tanamannya, dan bukan pula salah tanahnya. Ini semata karena kurangnya kedewasaan kita. Karena dewasa itu berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Telah kita ketahui bahwa setelah Idulfitri 1438 H kita diajak untuk konsentrasi pada kebutuhan hidup yang PRIMER-WAJIB, untuk keluarga kita masing-masing dan jaringan persaudaraan Maiyah. Yang SEKUNDER-SUNNAH untuk luar Maiyah: Ummat Islam, Bangsa dan Negara Indonesia, dan ummat manusia.
Karena dewasa itu berarti mandiri dalam mengambil keputusan tentang apa yang dipilih untuk dikerjakan tapi tetap “wala tansa nashibaka minad-dunya."
Namun harus tetap "eling lan waspodo" bahwa nilai-nilai Maiyah ini tidak ada manfaatnya bagi kehidupan di mana manusia fokus menikmati dan merakusi dunia. Apapun yang kita raih adalah hadiah dan bukan tujuan. Karena Maiyah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. "Inna sholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillah."
Kita sadari bahwa kita tidak memiliki daya untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia di dunia, maka dari itu kita tidak akan pernah ikut-ikutan menjadi dan menambah masalah.
Maiyah akan berikhtiar mengurangi beban-beban yang ditimbulkan oleh hubbud-dunya dan intisyarul-fasad. Menempuh jalan agar tidak ikut sakit-dunia, tidak ikut dianiaya apalagi menganiaya, tidak ikut menipu, memperdaya, mengebiri, membonsai, menjebak, menggerogoti, melampiaskan keserakahan, mengkolonialisasi dan mengimperialisasi.
Jamaah Maiyah harus tetap berikhtiar dengan rasa syukur dan husnudh-dhon agar layak menjadi “gabah dèn interi” oleh Allah, agar setelah kebutuhan kita tercukupi bisa ada lebihnya untuk "thoharroqu" dijalan sunyi penyelamatan saudara-saudara kita yang dikehendaki-Nya.
"Wal Tandzur nafsun maa qaddamat li ghat." Tandur, lihatlah. Tatanan mundur itu dilakukan untuk menyemai masa depan dengan cara berjalan mundur melihat sejarah di belakang agar tidak lupa asal usul, agar tidak lupa tujuan. Dan agar tidak lupa garis khittah-nya, maka peganglah erat "tali kentheng", tali yang lurus itu, atau "tali kenur", tali cahaya itu, wa'tashimu bi hablillahi jami'an, wala tafarroquw. Dan jelas perintahNya adalah Waltakum minkum ummatun.
Peganglah erat "tali kenur" atau "tali kentheng" itu. Jangan bercerai berai. Bersatulah dalam jalan sunyi Maiyah. Tidak untuk bergabung pada kekuasaan namun "Thoharroquw, fa inna fii harookati barookah."
Semoga jalan kita bersatu, bermaiyah ini ditanggapi oleh amr Allah swt dan irodah Rasulullah saw.
Blambangan, November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...