TANDUR, DI KEBUN-KEBUN MAIYAH
"Wal TANDZUR Nafsun maa Qaddamat li Ghad".
Entah kutukan, entah takdir, entah apa yang terjadi pada tanah ini? Tanah yang belum pernah merekah oleh biji cinta Maiyah yang ditanam padanya.
Satu biji yang di-Tandur di tanah ini bukannya "anbatat sab'a sanabila" sehingga "fii kulli sumbulatin mi'atu habbah", namun justeru membuat tanah rusak dan kehilangan kesuburan.
Bukan salah yang menanam, bukan salah biji tanamannya, dan bukan pula salah tanahnya. Ini semata karena kurangnya kedewasaan kita. Karena dewasa itu berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Telah kita ketahui bahwa setelah Idulfitri 1438 H kita diajak untuk konsentrasi pada kebutuhan hidup yang PRIMER-WAJIB, untuk keluarga kita masing-masing dan jaringan persaudaraan Maiyah. Yang SEKUNDER-SUNNAH untuk luar Maiyah: Ummat Islam, Bangsa dan Negara Indonesia, dan ummat manusia.
Karena dewasa itu berarti mandiri dalam mengambil keputusan tentang apa yang dipilih untuk dikerjakan tapi tetap “wala tansa nashibaka minad-dunya."
Namun harus tetap "eling lan waspodo" bahwa nilai-nilai Maiyah ini tidak ada manfaatnya bagi kehidupan di mana manusia fokus menikmati dan merakusi dunia. Apapun yang kita raih adalah hadiah dan bukan tujuan. Karena Maiyah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. "Inna sholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillah."
Kita sadari bahwa kita tidak memiliki daya untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia di dunia, maka dari itu kita tidak akan pernah ikut-ikutan menjadi dan menambah masalah.
Maiyah akan berikhtiar mengurangi beban-beban yang ditimbulkan oleh hubbud-dunya dan intisyarul-fasad. Menempuh jalan agar tidak ikut sakit-dunia, tidak ikut dianiaya apalagi menganiaya, tidak ikut menipu, memperdaya, mengebiri, membonsai, menjebak, menggerogoti, melampiaskan keserakahan, mengkolonialisasi dan mengimperialisasi.
Jamaah Maiyah harus tetap berikhtiar dengan rasa syukur dan husnudh-dhon agar layak menjadi “gabah dèn interi” oleh Allah, agar setelah kebutuhan kita tercukupi bisa ada lebihnya untuk "thoharroqu" dijalan sunyi penyelamatan saudara-saudara kita yang dikehendaki-Nya.
"Wal Tandzur nafsun maa qaddamat li ghat." Tandur, lihatlah. Tatanan mundur itu dilakukan untuk menyemai masa depan dengan cara berjalan mundur melihat sejarah di belakang agar tidak lupa asal usul, agar tidak lupa tujuan. Dan agar tidak lupa garis khittah-nya, maka peganglah erat "tali kentheng", tali yang lurus itu, atau "tali kenur", tali cahaya itu, wa'tashimu bi hablillahi jami'an, wala tafarroquw. Dan jelas perintahNya adalah Waltakum minkum ummatun.
Peganglah erat "tali kenur" atau "tali kentheng" itu. Jangan bercerai berai. Bersatulah dalam jalan sunyi Maiyah. Tidak untuk bergabung pada kekuasaan namun "Thoharroquw, fa inna fii harookati barookah."
Semoga jalan kita bersatu, bermaiyah ini ditanggapi oleh amr Allah swt dan irodah Rasulullah saw.
Blambangan, November 2017

Komentar
Posting Komentar