KUPAT
“Mohon maaf lahir batin”, sebuah kalimat yang lazim kita temui saat momen lebaran Fitri seperti ini. Di sosial media, di televisi, SMS, maupun diucapkan secara langsung saat berkunjung atau bertemu dengan saudara, teman, kenalan, atau siapa pun. Kalimat yang begitu ringan kita ucapkan dan kita terima dengan dada lapang dan jiwa benderang dalam nuansa hari raya yang syahdu.
Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kalimat permohonan maaf ini sebenarnya sangat dalam. Membutuhkan sebuah energi besar untuk mewujudkannya menjadi sebuah kalimat yang aplikatif, tidak seringan lisan kita saat mengucapkannya atau saat jari-jari kita menyentuh keypad untuk menuliskannya. Mohon maaf secara lahir itu artinya orang yang kita mintai maaf haruslah mafhum kesalahan yang pernah kita perbuat terhadapnya.
Dulu, Mbah-mbah kita mengajarkan saat kita nglencer ke rumah tetangga yang pernah kita jahili misalnya, tak cukup sekedar datang, sungkem, lalu minta maaf. Harus ada pengakuan, misalnya; “mohon maaf Pak, kapan hari saya yang nyuri rambutan di kebun njenengan.” Jika si tuan rumah menerima pengakuan dosa kita dan mengikhlaskan rambutan yang telah kita makan, maka ‘mohon maaf lahir’ yang kita ucapkan sudah aplikatif. Lalu selanjutnya yang lebih berat adalah ‘mohon maaf batin’.
Bagaimana pengakuan dosa orang lain terhadap kita tidak meninggalkan bekas dan menjadi bibit ‘kewaspadaan’ bahkan dendam di kemudian hari. Jadi pada saat prosesi saling memaafkan itu semua kesalahan di masing-masing pihak benar-benar lebur bersamaan dengan menempelnya dua tangan yang saling menjabat, bukan sekedar ucapan di lisan untuk sekedar memeriahkan lebaran. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi simpanan kekesalan, tak ada lagi saling ungkit persoalan. Sebagaimana Allah mengampuni hamba-Nya yang berhasil melalui ujian selama Ramadhan lalu menutupnya dengan membayar zakat kemudian melebur setiap kesalahan dengan sesama anak Adam, maka dia kembali suci layaknya bayi yang baru lahir, bersih tanpa dosa.
Tentu memaafkan secara batin ini sangat berat karena kita adalah manusia yang memiliki kecenderungan untuk menjadi buruk layaknya iblis atau menjelma bak malaikat. Tapi disitulah letak keindahannya. Betapa tidak asyiknya jika kita menjadi makhluk monoton yang selamanya buruk atau baik terus tanpa cela. Tidak akan ada gunanya kita berusaha untuk memperbaiki diri jika kita menjadi salah satu diantara dua kemungkinan tersebut, dan tentu tidak akan muncul kalimat ‘mohon maaf lahir batin’ yang fenomenal itu.
Maka di sinilah kita, diantara dua kemungkinan; menjadi baik atau buruk. Sudah barang pasti diri kita dipenuhi kesalahan-kesalahan, baik terhadap sesama makhluk maupun terhadap Sang Khaliq karena kita adalah tempatnya khilaf. Dan inilah saat yang tepat untuk saling melebur khilaf antar sesama, ngaKU lePAT, mengakui setiap kesalahan yang telah kita buat lalu memohonkan ampun, lahir dan batin. Begitu juga sebaliknya kita terhadap sesama, inilah saatnya memafkan dan melupakan segala khilaf orang lain terhadap kita. Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidinal faizin.
Lingkar Maiyah Banyuwangi, RAMPAK OSING
Edisi #17, 11 Juli 2017
Edisi #17, 11 Juli 2017

Komentar
Posting Komentar