Langsung ke konten utama

Edisi 17 Kupat


KUPAT
“Mohon maaf lahir batin”, sebuah kalimat yang lazim kita temui saat momen lebaran Fitri seperti ini. Di sosial media, di televisi, SMS, maupun diucapkan secara langsung saat berkunjung atau bertemu dengan saudara, teman, kenalan, atau siapa pun. Kalimat yang begitu ringan kita ucapkan dan kita terima dengan dada lapang dan jiwa benderang dalam nuansa hari raya yang syahdu.
Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kalimat permohonan maaf ini sebenarnya sangat dalam. Membutuhkan sebuah energi besar untuk mewujudkannya menjadi sebuah kalimat yang aplikatif, tidak seringan lisan kita saat mengucapkannya atau saat jari-jari kita menyentuh keypad untuk menuliskannya. Mohon maaf secara lahir itu artinya orang yang kita mintai maaf haruslah mafhum kesalahan yang pernah kita perbuat terhadapnya.
Dulu, Mbah-mbah kita mengajarkan saat kita nglencer ke rumah tetangga yang pernah kita jahili misalnya, tak cukup sekedar datang, sungkem, lalu minta maaf. Harus ada pengakuan, misalnya; “mohon maaf Pak, kapan hari saya yang nyuri rambutan di kebun njenengan.” Jika si tuan rumah menerima pengakuan dosa kita dan mengikhlaskan rambutan yang telah kita makan, maka ‘mohon maaf lahir’ yang kita ucapkan sudah aplikatif. Lalu selanjutnya yang lebih berat adalah ‘mohon maaf batin’.
Bagaimana pengakuan dosa orang lain terhadap kita tidak meninggalkan bekas dan menjadi bibit ‘kewaspadaan’ bahkan dendam di kemudian hari. Jadi pada saat prosesi saling memaafkan itu semua kesalahan di masing-masing pihak benar-benar lebur bersamaan dengan menempelnya dua tangan yang saling menjabat, bukan sekedar ucapan di lisan untuk sekedar memeriahkan lebaran. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi simpanan kekesalan, tak ada lagi saling ungkit persoalan. Sebagaimana Allah mengampuni hamba-Nya yang berhasil melalui ujian selama Ramadhan lalu menutupnya dengan membayar zakat kemudian melebur setiap kesalahan dengan sesama anak Adam, maka dia kembali suci layaknya bayi yang baru lahir, bersih tanpa dosa.
Tentu memaafkan secara batin ini sangat berat karena kita adalah manusia yang memiliki kecenderungan untuk menjadi buruk layaknya iblis atau menjelma bak malaikat. Tapi disitulah letak keindahannya. Betapa tidak asyiknya jika kita menjadi makhluk monoton yang selamanya buruk atau baik terus tanpa cela. Tidak akan ada gunanya kita berusaha untuk memperbaiki diri jika kita menjadi salah satu diantara dua kemungkinan tersebut, dan tentu tidak akan muncul kalimat ‘mohon maaf lahir batin’ yang fenomenal itu.
Maka di sinilah kita, diantara dua kemungkinan; menjadi baik atau buruk. Sudah barang pasti diri kita dipenuhi kesalahan-kesalahan, baik terhadap sesama makhluk maupun terhadap Sang Khaliq karena kita adalah tempatnya khilaf. Dan inilah saat yang tepat untuk saling melebur khilaf antar sesama, ngaKU lePAT, mengakui setiap kesalahan yang telah kita buat lalu memohonkan ampun, lahir dan batin. Begitu juga sebaliknya kita terhadap sesama, inilah saatnya memafkan dan melupakan segala khilaf orang lain terhadap kita. Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidinal faizin.
Lingkar Maiyah Banyuwangi, RAMPAK OSING
Edisi #17, 11 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...