PARADE KAMARDIKAN
Menjadi manusia yang merdeka adalah keinginan setiap orang, dan menjadi bangsa yang merdeka adalah cita-cita segala bangsa. Namun selama masih ada nafsu yang bercokol dalam diri setiap orang, atau bahkan dalam diri para pemegang tatanan sebuah sistem, maka masih akan terus berlangsung apa yang disebut penjajahan dengan segala bentuk dan caranya. Karena masih ada penjajahan seperti itu, selama itu pula perjuangan meraih kemerdekaan menjadi niscaya.
Bangsa Indonesia secara resmi memproklamirkan kemerdekaan dari penjajahan fisik bangsa lain pada tanggal 17 Agustus 1945. Pekik takbir dan kumandang ‘merdeka’ menggema di seantero negeri sebagai tanda syukur atas nikmat berupa terbebasnya negeri ini dari cengkeraman bangsa Eropa selama lebih dari tiga abad. Sejak saat itu hingga hari ini setiap tanggal yang sama bangsa ini merayakan kembali semangat rasa syukur atas nikmat merdeka dari penjajahan tersebut.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengenang jutaan nyawa yang telah dikorbankan dalam rangka merebut kemerdekaan. Mulai dari upacara pengibaran Sang Merah Putih dalam suasana khidmat, tasyakuran berupa kenduri massal dan sedekah bumi, maupun doa bersama. Belum lagi perayaan berbagai Parade, karnaval, sampai acara-acara hiburan rakyat yang mengajarkan sportifitas dan nasionalisme. Turun temurun tradisi di hari kemerdekaan ini terus diperingati.
Setiap mereka yang pernah merasakan hidup di bawah desingan peluru penjajah tentu masih merasakan getar haru saat detik-detik peringatan itu digelar. Namun bagi generasi kekinian yang sama sekali tidak pernah merasakan beratnya sebuah perjuangan fisik melawan bangsa penjajah, rasa itu hanya bisa direka-reka melalui cerita-cerita orang terdahulu tanpa benar-benar bisa merasakan ruh kemerdekaan itu sendiri. Seiring bergantinya waktu tentu orang-orang yang dulu pernah ikut memikul senjata mengusir penjajah semakin berkurang, karena jatah usianya sudah habis. Maka tak heran semakin ke belakang acara peringatan hari kemerdekaan seolah semakin tak memiliki ruh, hanya sebuah acara seremoni penggugur kewajiban mengenang jasa para pendahulu negeri ini.
Generasi muda yang kini mengalami penjajahan tanpa perang fisik mulai dilenakan oleh hal-hal yang menjauhkan mereka dari cita-cita luhur para pendahulunya. Gempuran kapitalisasi di segala lini kehidupan benar-benar sulit dideteksi apalagi diantisipasi, sehingga banyak yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang terjajah. Terjajah dalam arti yang sebenarnya. Terjajah pemikirannya, terjajah budayanya, terjajah ideologinya, terjajah peradabannya. Terlalu dalam dan terlalu kompleks generasi ini dijajah, hingga terlalu sulit rasanya untuk ‘merebut’ kembali kemerdekaan. Bagaimana hendak memperjuangkan kemerdekaan sementara kita, generasi saat ini, seolah merasa tidak sedang terjajah. Maka semakin jauhlah kita dari semangat perjuangan menjaga kedaulatan identitas bangsa ini yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Semangat dan cita-cita yang dulu mereka perjuangkan dengan harta dan nyawa.
Tiga abad lebih para pendahulu bangsa ini berusaha keluar dari cengkeraman penjajahan, namun hanya dalam kurun tujuh dekade saja semangat itu seolah luntur dan hanya sedikit tersisa. Peringatan kemerdekaan yang digelar hanya bagai sebuah parade, sebuah pertunjukan. Masih mending jika parade yang digelar mengajarkan semangat nasionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa, tak jarang parade yang digelar itu justru mengusung ideologi dan kebudayaan yang entah berasal dari mana, yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an dan ke-Nusantara-an.
Jika kita berfikir liberal dan radikal, seola dalam hati berkata; Terserah kita punya sejarah masa silam atau tidak. Pun terserah kita punya masa depan atau tidak, karena adalah hak prerogative Tuhan jika besok sore Dia mau mengkiamatkan kehidupan. Yang penting kita pastikan hari ini dan hari kapanpun bahwa kita tidak akan membunuh siapapun kecuali hewan kurban.
Tentu kita yakin belum sepenuhnya identitas bangsa ini terkikis habis, dan tidak seluruhnya generasi ini tak mengerti bagaimana menjaga dan merawat warisan leluhur. Maka tugas kita saat ini adalah berusaha menjadi generasi yang tidak melupakan sejarah bangsanya, tidak gagap menghadapi tantangan zamannya, dan mempersiapkan generasi masa depan yang tetap menjunjung tinggi nilai luhur warisan para pendahulu yang menjadi tonggak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Selebihnya mengajak diri pribadi kita dan keluarga kita untuk bekerjasama mencari dan menemukan “bebener, pepener, lan kawicaksananing urip”. Mengajak “Sinau Bareng” untuk mencari kebenaran, ketepatan, dan kebijaksanaan hidup dalam mengisi kemerdekaan ini.
MERDEKA!!!
Lingkar Maiyah Banyuwangi “RAMPAK OSING”
Edisi #19, 05 September 2017
Edisi #19, 05 September 2017

Komentar
Posting Komentar