Langsung ke konten utama

Edisi 13 Kesederhanaan



KESEDERHANAAN

Sajak Sederhana Untuk-MU 

Ingin selalu kepersembahnkan kepada-Mu
sajak-sajak sederhana
pikiran-pikiran yang sederhana
perasaan-perasaan dan hasrat yang sederhana..

Sebab hidup ini pun sederhana saja
aku dilahirkan secara sederhana
dari rahim ibuku yang sederhana
dari rahim Iradat-Mu yang sederhana..

Doaku kepada-Mu ialah
agar Kau bantu aku
di dalam memenangkan pertarungan
melawan segala kesia-siaan..

Terima kasih bahwa aku merasa jijik
terhadap cita-cita dunia yang muluk
dan senantiasa berusaha mengurangi
semangat terhadap yang serba gemerlapan..

Kau lepaskan Adam ke bumi
beserta anak turunnya
aku tahu itu untuk menguji
apakah ia dewasa memahami kemerdekaannya..

Jika nanti aku selesai
menjalani tugas ini
kuharap mulutku tidak kelu
ketika mengucap nama-Mu..

Tuhan, ambillah aku
sewaktu-waktu
kematianku hendaknya sederhana saja
orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja

(Emha Ainun Nadjib)

*****

"Khoirul umur awsathuha", dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baik perkara adalah yang sedang-sedang saja. Dalam bahasa kita biasa kita kenal 'sederhana'. Sederhana berbeda dengan menyederhanakan, meski pada esensinya keduanya sangat berhubungan. Sederhana itu tidak berbelit-belit, sementara menyederhanakan adalah membuat sesuatu yang berat menjadi ringan.

"Hidup sudah susah, jangan dibikin susah." Jargon ini sangat sering kita dengar di masyarakat. Ya, memang jika kita terbiasa memperumit hidup yang sudah rumit ini maka ila yaumil akhir pun kita akan sulit mendefinisikan kebahagiaan.

Sebagai guru dan orang tua, Mbah Nun sering mengajarkan kepada kita, anak-cucu dan murid beliau agar menjalani hidup ini sederhana saja asal tidak kehilangan jati diri. Jangan melihat sesuatu melebihi fungsinya, maka kau tidak akan diperbudak oleh apa pun.

Ketika kita membeli baju dengan harga Rp. 300.000, lalu kita hanya mengenakannya pada momen-momen tertentu karena harganya mahal, maka sebenarnya kita sudah diperbudak oleh benda. Dan manusia tipe seperti ini adalah sasaran empuk kapitalisme. Kita bekerja keras siang malam untuk mengumpulkan uang 30jt agar bisa membeli motor dengan merk tertentu lalu kita menjaganya siang malam dan hanya mengendarainya saat menuju tempat atau acara tertentu, sementara untuk rutinitas sehari-hari kita menggunakan motor yang harganya 10jutaan, maka saat itu kita telah jatuh kedalam perangkap kapitalisme dan diperbudak oleh buah-buah kapitalisasi.

Bermaiyah salah satunya adalah belajar menjadi manusia yang berdaulat pada diri sendiri. Kita tidak mungkin mampu merubah dunia sementara terhadap keinginan-keinginan sendiri saja kita tidak berdaulat. Mulailah dari hal yang sederhana, jalani dengan kesederhanaan. Maka ketika pola hidup sederhana itu sudah membumi, dengan sendirinya nilai-nilai kapitalisme pelan-pelan akan tergerus dari gaya hidup kita. Dan saat itulah mimpi kita mendobrak hegemoni kapitalisme menjadi niscaya untuk terwujud.

Mbah Nun sudah mengajarkan kita kesederhanaan dan bagaimana menyederhanakan. Jika kita bisa menyerap esensinya lalu pelan-pelan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita, kita akan mengerti makna kalimat unik dari Gus Dur yang begitu terkenal "gitu aja kok repot!"

Lingkar Maiyah Banyuwangi "RAMPAK OSING" 
Edisi 13, Selasa 14 Maret 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...