Langsung ke konten utama

Edisi 15 Ngrumat Hadiah



NGRUMAT HADIAH
'Amul huzn adalah tahun kesedihan dimana Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditinggalkan oleh dua pilar perjuangannya, yaitu istri tercinta beliau Sayyidah Khadijah dan paman beliau yang menjadi benteng dari serangan kaum musyrikin Makkah, Abu Thalib. Untuk memberikan kekuatan dan ketenangan kepada KekasihNya, Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Jibril 'alaihissalam untuk 'menjemput' Sang Kekasih dan mengajaknya menghadap secara langsung ke Sidratil Muntaha.
Perjalanan malam yang didahului dengan prosesi pembedahan dada Rasulullah oleh dua orang malaikat untuk membersihkan kotoran-kotoran dari hati manusia suci ini kemudian disebut dengan peristiwa isra' mi'raj. Sebuah perjalanan fenomenal yang melahirkan ribuan cerita dan kontroversi hingga saat ini. Tapi satu hal yang disepakati oleh semua ulama, bahwa dari perjalanan suci ini Allah memberikan 'hadiah' berupa shalat kepada umat Nabi Muhammad.
Shalat merupakan sarana bagi kita untuk bercakap-cakap, bercinta, berkeluh kesah, dan bermesraan langsung dengan Dzat yang menggenggam jiwa kita. Orang yang melaksanakan shalat adalah orang ngrumat hadiah, orang yang mendirikan shalat adalah orang yang mendapat kemenangan. Sebagaimana sebuah kalimat seruan dalam adzan "hayya 'alal falah", mari kita menuju kemenangan.
Setiap gerakan dan bacaan di dalamnya mengandung 'misteri' yang hanya Allah sendiri yang tahu maksudnya. Maka, tak perlulah kita terlalu sibuk berusaha melogikakan bahwa gerakan ini artinya begini dan akan melahirkan hikmah seperti ini. Karena hal-hal seperti itu justru akan memalingkan kita dari tujuan utama kita melaksanakan shalat, bermesra dengan Allah. Kerjakan saja, resapi, nikmati. Maka pelan-pelan Allah akan membuka sedikit demi sedikit tabir misteri itu sesuai dengan kadar kemampuan kita. Ada 'kejutan' dari 'kado' yang bernama shalat ini yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun, namun hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar berusaha menyingkap 'bungkusnya'.
Lingkar Maiyah Banyuwangi, RAMPAK OSING
Edisi #15, 02 Mei 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...