SELO-METAN
Bulan ke sebelas tahun Hijriyah; Dzulqo’dah, dalam kalender Jawa disebut bulan Selo. Dalam dialek keseharian masyarakat Jawa, kata selo bisa berarti waktu senggang, terjepit, atau berada di antara dua bagian yang menghimpit. Dinamakan ‘Selo’ karena bulan ke sebelas ini berada di antara dua hari raya yaitu hari raya Idul Fitri (bulan Syawal) dan hari raya Idul Adha (bulan Dzulhijjah).
Masyarakat sering memanfaatkan waktu ‘selo’ (senggang) untuk menyegarkan badan dan fikiran setelah sekian waktu lainnya disibukkan dengan aktifitas keseharian, baik pekerjaan, belajar, maupun aktifitas-aktifitas lain yang menguras energi. Ada yang dengan beristirahat seharian di rumah sambil bercengkrama dengan keluarga, ada yang dengan mendatangi tempat-tempat rekreasi, ada yang menghabiskan waktu selo untuk menyalurkan hobi seperti memancing, traveling, dan sebagainya. Namun ada tradisi menarik yang sudah turun temurun di kalangan masyarakat untuk mengisi ke-selo-an, yaitu kumpul-kumpul sambil metani (mencari-cari, menguliti) aib orang lain yang dalam bahasa Jawa biasa disebut ‘rasan-rasan’.
Dahulu sebelum masyarakat mengenal media sosial yang serba canggih seperti sekarang, mereka (di beberapa kalangan masyarakat pedesaan) biasanya rasan-rasan sambil ‘petan’ (mencari kutu di rambut). Sehingga masyhurlah ujaran; petan sinambi metan (mencari kutu sambil mencari aib sesama). Tapi sekarang, tradisi ‘petan’ ini sepertinya sudah sangat jarang kita jumpai. Namun tidak dengan tradisi ‘metan’, ia masih terus eksis bahkan semakin modern seiring pesatnya kemajuan tehnologi. Media sosial yang oleh sebagian orang digunakan sebagai alat untuk mencari nafkah, bersilaturrahim dengan saudara atau teman yang jauh, sebagai media dakwah, bagi sebagian yang lain justru sering digunakan untuk memodernisasi tradisi ‘metan’.
Media sosial tak jarang menjadi ajang rasan-rasan, caci-maki, perdebatan, bahkan meluapkan kebencian dan klaim-klaim terhadap pihak-pihak tertentu. Hari ini tidak harus menunggu waktu ‘selo’ untuk ‘metani liyan’. Kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi apa pun, kita bisa ngrasani atau mencaci-maki siapa pun tanpa harus bertatap muka dengan pihak yang kita tuju sebagai sasaran caci-maki. Untuk mengomentari suatu kejadian atau suatu keadaan, kita tidak perlu menunggu berkumpul dengan para tetangga sambil ‘petan’ lalu saling bertukar informasi sebagai bahan rasan-rasan. Semua sudah ada dalam genggaman; partner, bahan, dan korban, semua lengkap. Tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sebuah ‘ramuan’ untuk menghantam telak korban hingga si korban tak mampu mengelak.
Meski tradisi rasan-rasan ini terus berkembang mengikuti zaman namun ada yang tidak berubah dari dahulu hingga sekarang, yaitu orang merasa tidak perlu melakukan penelitian mendalam akan kebenaran berita yang akan di-rasan-kan. Asal baca sebuah berita, langsung komentar, share, dan tak jarang dijadikan ajang ‘pertarungan’. Padahal belum tentu berita tersebut sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Maka tak heran, orang bisa saja menemukan saudara, bertemu musuh, bertengkar dengan orang lain, meski belum pernah saling mengenal atau bertemu sebelumnya. Bahkan hari ini kita seolah sedang diadu dengan saudara kita sendiri oleh orang-orang yang juga tidak kita ketahui siapa. Sesama muslim saling berebut kebenaran atas nama agama bahkan atas nama Tuhan, sesama manusia saling menghabisi atas nama kemanusiaan. Semuanya disetir melalui media yang setiap hari kita genggam yang bernama gadget.
Diperlukan sebuah kedewasaan dalam memanfaatkan waktu ‘selo’ saat kita memilih gadget sebagai pelampiasan refreshing kita. Segala sesuatu di dalamnya bisa menuntun kita mendapatkan hiburan yang menyegarkan atau justru membuat kita semakin stres karena sampah di dalamnya kita sikapi dengan perasaan yang berlebihan. Istilah zaman sekarang ‘baper’, yaitu memberi porsi lebih kepada perasaan untuk menyikapi sebuah berita dibanding memposisikan akal dan logika yang obyektif sebagai penentu baik buruknya sebuah informasi bagi jiwa kita.
Dahulu Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita agar berhati-berhati terhadap lidah kita dengan bersabda; “selamatnya manusia bergantung bagaimana ia menjaga lisannya”. Jika hari ini Rasulullah masih ada di tengah-tengah kita, bisa jadi pesan itu ditambah “berhati-hatilah menjaga jari-jarimu karena keselamatanmu ditentukan bagaimana kau mejaga jari-jarimu”. Maka mari bersama-sama kita selamatkan jari-jari kita dari tekanan baper yang berlebihan. Gunakanlah mereka untuk mempererat persaudaraan dengan sesama muslim atas nama Allah, dan dengan sesama manusia atas nama kemanusiaan. Jangan biarkan mereka yang menguasai peredaran sampah-sampah gadget itu terus membuat kita saling mangsa sesama saudara. Bukankah akan lebih dahsyat jika waktu selo yang hanya sedikit itu kita gunakan untuk mempererat rasa persaudaraan antar sesama manusia lalu orang-orang berhati busuk itu akan merasa putus asa karena sampah yang mereka tebar untuk menyuburkan pertikaian tak menghasilkan apa-apa?
Lingkar Maiyah Banyuwangi “RAMPAK OSING”
Edisi #18, 01 Agustus 2017
Edisi #18, 01 Agustus 2017

Komentar
Posting Komentar