Langsung ke konten utama

Edisi 18 Selometan


SELO-METAN
Bulan ke sebelas tahun Hijriyah; Dzulqo’dah, dalam kalender Jawa disebut bulan Selo. Dalam dialek keseharian masyarakat Jawa, kata selo bisa berarti waktu senggang, terjepit, atau berada di antara dua bagian yang menghimpit. Dinamakan ‘Selo’ karena bulan ke sebelas ini berada di antara dua hari raya yaitu hari raya Idul Fitri (bulan Syawal) dan hari raya Idul Adha (bulan Dzulhijjah).
Masyarakat sering memanfaatkan waktu ‘selo’ (senggang) untuk menyegarkan badan dan fikiran setelah sekian waktu lainnya disibukkan dengan aktifitas keseharian, baik pekerjaan, belajar, maupun aktifitas-aktifitas lain yang menguras energi. Ada yang dengan beristirahat seharian di rumah sambil bercengkrama dengan keluarga, ada yang dengan mendatangi tempat-tempat rekreasi, ada yang menghabiskan waktu selo untuk menyalurkan hobi seperti memancing, traveling, dan sebagainya. Namun ada tradisi menarik yang sudah turun temurun di kalangan masyarakat untuk mengisi ke-selo-an, yaitu kumpul-kumpul sambil metani (mencari-cari, menguliti) aib orang lain yang dalam bahasa Jawa biasa disebut ‘rasan-rasan’.
Dahulu sebelum masyarakat mengenal media sosial yang serba canggih seperti sekarang, mereka (di beberapa kalangan masyarakat pedesaan) biasanya rasan-rasan sambil ‘petan’ (mencari kutu di rambut). Sehingga masyhurlah ujaran; petan sinambi metan (mencari kutu sambil mencari aib sesama). Tapi sekarang, tradisi ‘petan’ ini sepertinya sudah sangat jarang kita jumpai. Namun tidak dengan tradisi ‘metan’, ia masih terus eksis bahkan semakin modern seiring pesatnya kemajuan tehnologi. Media sosial yang oleh sebagian orang digunakan sebagai alat untuk mencari nafkah, bersilaturrahim dengan saudara atau teman yang jauh, sebagai media dakwah, bagi sebagian yang lain justru sering digunakan untuk memodernisasi tradisi ‘metan’.
Media sosial tak jarang menjadi ajang rasan-rasan, caci-maki, perdebatan, bahkan meluapkan kebencian dan klaim-klaim terhadap pihak-pihak tertentu. Hari ini tidak harus menunggu waktu ‘selo’ untuk ‘metani liyan’. Kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi apa pun, kita bisa ngrasani atau mencaci-maki siapa pun tanpa harus bertatap muka dengan pihak yang kita tuju sebagai sasaran caci-maki. Untuk mengomentari suatu kejadian atau suatu keadaan, kita tidak perlu menunggu berkumpul dengan para tetangga sambil ‘petan’ lalu saling bertukar informasi sebagai bahan rasan-rasan. Semua sudah ada dalam genggaman; partner, bahan, dan korban, semua lengkap. Tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sebuah ‘ramuan’ untuk menghantam telak korban hingga si korban tak mampu mengelak.
Meski tradisi rasan-rasan ini terus berkembang mengikuti zaman namun ada yang tidak berubah dari dahulu hingga sekarang, yaitu orang merasa tidak perlu melakukan penelitian mendalam akan kebenaran berita yang akan di-rasan-kan. Asal baca sebuah berita, langsung komentar, share, dan tak jarang dijadikan ajang ‘pertarungan’. Padahal belum tentu berita tersebut sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Maka tak heran, orang bisa saja menemukan saudara, bertemu musuh, bertengkar dengan orang lain, meski belum pernah saling mengenal atau bertemu sebelumnya. Bahkan hari ini kita seolah sedang diadu dengan saudara kita sendiri oleh orang-orang yang juga tidak kita ketahui siapa. Sesama muslim saling berebut kebenaran atas nama agama bahkan atas nama Tuhan, sesama manusia saling menghabisi atas nama kemanusiaan. Semuanya disetir melalui media yang setiap hari kita genggam yang bernama gadget.
Diperlukan sebuah kedewasaan dalam memanfaatkan waktu ‘selo’ saat kita memilih gadget sebagai pelampiasan refreshing kita. Segala sesuatu di dalamnya bisa menuntun kita mendapatkan hiburan yang menyegarkan atau justru membuat kita semakin stres karena sampah di dalamnya kita sikapi dengan perasaan yang berlebihan. Istilah zaman sekarang ‘baper’, yaitu memberi porsi lebih kepada perasaan untuk menyikapi sebuah berita dibanding memposisikan akal dan logika yang obyektif sebagai penentu baik buruknya sebuah informasi bagi jiwa kita.
Dahulu Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita agar berhati-berhati terhadap lidah kita dengan bersabda; “selamatnya manusia bergantung bagaimana ia menjaga lisannya”. Jika hari ini Rasulullah masih ada di tengah-tengah kita, bisa jadi pesan itu ditambah “berhati-hatilah menjaga jari-jarimu karena keselamatanmu ditentukan bagaimana kau mejaga jari-jarimu”. Maka mari bersama-sama kita selamatkan jari-jari kita dari tekanan baper yang berlebihan. Gunakanlah mereka untuk mempererat persaudaraan dengan sesama muslim atas nama Allah, dan dengan sesama manusia atas nama kemanusiaan. Jangan biarkan mereka yang menguasai peredaran sampah-sampah gadget itu terus membuat kita saling mangsa sesama saudara. Bukankah akan lebih dahsyat jika waktu selo yang hanya sedikit itu kita gunakan untuk mempererat rasa persaudaraan antar sesama manusia lalu orang-orang berhati busuk itu akan merasa putus asa karena sampah yang mereka tebar untuk menyuburkan pertikaian tak menghasilkan apa-apa?
Lingkar Maiyah Banyuwangi “RAMPAK OSING”
Edisi #18, 01 Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...