Langsung ke konten utama

Edisi 20 Move On


MOVE ON

Kenangan adalah hal yang niscaya. Setiap manusia yang hidup pada hari ini pasti mengalami sejarah, memiliki kenangan, yaitu hari kemarin. Meski banyak manusia yang menjadi kokoh dan berdiri tegak hari ini karena sejarah di hari kemarin yang mengokohkan pijakan kakinya, tapi tak jarang pula manusia yang terpuruk hari ini tersebab masa lalunya terlalu kelam untuk dijadikan pijakan menjalani hari-hari berikutnya. Mereka yang tetap terpuruk itu adalah orang-orang yang tidak mampu mentas dari bayangan kelam masa silamnya, gagal move on. 

Itu adalah gambaran personal, orang per orang yang terpuruk akibat beban masa silam sehingga kesulitan move on. Lalu apakah virus kesulitan bangkit dari keterpurukan atau gagal move on ini bisa menjangkiti sebuah kelompok masyarakat? Dalam konteks yang lebih luas, bisakah melanda sebuah bangsa? Sangat mungkin. Karena kelompok masyarakat yang berhimpun dalam sebuah bangsa terdiri manusia-manusia yang sama memiliki kemungkinan terjangkit virus yang melemahkan ini.

Apa sebenarnya faktor utama virus gagal move on mudah sekali menjangkiti manusia? Bisa jadi karena manusia begitu mudah putus asa. Mereka lupa bahwa Allah tidak mungkin sembrono menimpakan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba yang diuji. Padahal sudah jelas ditegaskan oleh-Nya bahwa Dia hanya memberikan ujian sesuai takaran yang mampu kita selesaikan. Jadi, jika kita merasa masalah yang menimpa kita terlalu berat bagi kita, itu adalah pertanda bahwa kita tidak menyadari kemampuan besar yang juga dianugerahkan oleh Allah untuk mengatasi setiap persoalan yang dihadapkan pada kita. 

Bangsa kita hari ini pun demikian. Ujian yang menimpa negeri ini begitu kompleks dan berat. Cukup untuk meruntuhkan mental para pengecut sehingga akan beranggapan bahwa bangsa yang pernah sangat ditakuti oleh dunia ini akan sulit bangkit dan keluar dari keterpurukan. Jangan lupa, kita ini bangsa besar. Ombak dan badai yang lebih besar pernah, dan berkali-kali menerpa bangsa kita. Dan kita masih berdiri tegak sampai sekarang. Nenek moyang kita sudah mengajarkan bagaimana keluar dari setiap persoalan, menyingkirkan duri yang menghambat perjalanan bangsa ini. Semestinyalah kita berkaca, kita belajar, kita mengambil teladan kepada para pendahulu kita bagaimana kita berdiri tegak sebagai sebuah bangsa. Tak perlu takut akan bayang-bayang kehancuran. Setiap masalah ada solusinya, dan tugas kita menemukannya. Bangkitlah!! Move on!!

Kita sedang berada pada bulan Muharram. Bulan yang di dalamnya banyak kisah mukjizat para Rasul kekasih Allah. Nabi Ibrahim as. selamat dari kobaran api pada bulan ini, Nabi Yunus as. keluar dari mulut ikan pada bulan ini, dan banyak deretan kisah “move on” para kekasih Allah terjadi pada bulan ini. Maka, inilah saatnya kita bangkit merebut kembali kejayaan bangsa Nusantara ini dari cengkeraman kapitalisasi, keluar dari kabut ketakutan akan bangkitnya pemberontakan kaum ‘kiri’ yang entah dihembuskan oleh siapa. Jangan pernah takut bangsa ini akan runtuh begitu saja. Harapan itu masih ada. Dan Allah senantiasa bersama kita, selama kita mau memperjuangkannya.

Lingkar Maiyah Banyuwangi “RAMPAK OSING”
Edisi #20, 03 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...