Langsung ke konten utama

Edisi 24 Reborn


REBORN
Setiap orang menginginkan semua hal yang dilakukan dalam hidupnya selalu berhasil dengan baik. Sampai berdo'apun minta "fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah." Itulah sifat naluriah manusia yang hidup dengan tujuan dan ambisinya.
Namun, terkadang kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, orang sering mengalami kegagalan dalam proses hidup ini, misalnya gagal dalam belajar, asmara, karir, rumah tangga, pergaulan, dan sebagainya. Sehingga sebagian orang berasumsi bahwa kegagalan menjadi peristiwa akhir dari segala-galanya, atau sudah tidak ada harapan sama sekali hingga ke tingkat "Taiasu."
Akibatnya orang semakin terpuruk ke dalam kegagalan itu sendiri dan tidak mampu mengatasinya. Jika terjadi demikian orang lebih memilih untuk lari dari kenyataan seperti, minuman keras, mengkonsumsi narkoba, berjudi, begadang, foya-foya, dan sebagainya yang dianggapnya mampu mengatasi persoalan. Bahkan jika tidak mampu mengatasi persoalan, tak jarang ada yang sampai berani mengakhiri hidupnya.
Sebaliknya, ada orang yang menyikapi kegagalan dalam hidupnya dengan bijaksana. Yaitu orang yang mampu bangkit dan berusaha agar tidak mengalami kegagalan yang sama.
Bangkit setelah gagal sama kualitas dan derajatnya dengan Insyaf setelah melakukan kekhilafan. Dalam bahasa kekinian, bangkit dan insyaf tersebut biasa dikenal dengan REBORN atau Lahir kembali.
Reborn adalah suatu awal dalam menentukan pembaharuan diri sebelum kemudian bertindak untuk memenuhi kewajiban kita untuk mencintai sesama dalam mewujudkan "anfa'uhum linnas." Ketika diri telah dipenuhi rasa muthma'innah maka yang keluar dari diri adalah keindahan sebagaimana Innalloha Jamaal wa yuhibbu jamiil, yang manifestasinya adalah kasih sayang. Rahmat lil 'alamin.
Alloh SWT menciptakan dunia dan manusia karena Rohman dan Rohim-Nya, serta untuk membagikan Rohman dan Rohim-Nya.
Dengan mengingat Rohman dan Rohim-Nya, maka kegagalan dan penderitaan tidak perlu dijelaskan lagi. Kegagalan dan penderitaan harus dihadapi baik secara pribadi maupun secara berMaiyah baik sesama manusia maupun dengan Alloh SWT dan Rasulnya. Harapannya bahwa orang dapat menerima anugerah "hidupnya kembali" setelah keterpurukan yng dialaminya dan tetap menghargainya sebagai suatu anugerah dari Alloh SWT.
Karena pedoman hidup ini bukanlah “KAREPE kita”, dan bukan pula bukan “KUDUNE kita.” Kita boleh berrencana, tapi Allah SWT jua yg menentukan hasilnya. Karena kita adalah Berasal dari-Nya, Hidup untuk-Nya, dan Kembali kepada-Nya.
Selamat ter-Lahir Kembali, Selamat Reborn, dan Selamat atas Kelahirannya.
Banyuwangi, 31 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...