Langsung ke konten utama

Edisi 25 Bahtera



BAHTERA

Dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang bahtera Nabi Nuh, sebuah kapal besar yang digunakan untuk menyelamatkan manusia dan makhluk Bumi lainnya dari banjir maha dahsyat.
Dia yang berhati suci telah mengabarkan kepada kalian. Dan kalian tidak sedikitpun mendengarkan perkataanya. Ketika Dia berjuang untuk meyelamatkan kalian, kalian justru mengingkari dan mengolok-olok perjuangannya.
Bahkan kalian tega melukai hatinya dengan perlakuan yang tidak sepantasnya. Tapi dia tak pernah membeda-bedakan sekelilingnya, dia selalu mengayomi dan menerima setiap makhluk yang telah diciptakan oleh sang maha kreatif.
Dia selalu bersabar kepada kalian yang angkuh, hingga sampai pada suatu titik dimana sang maha kuasa marah, orang yang dekat kepada-Nya telah kalian ciderai dengan kesombongan kalian.
Maka turunlah belasan atas perbuatan kalian, sebuah luapan egoisme dan kesombongan yang menenggelamkan segalanya, bahkan orang yang dahulu sangat dikasihi dan sangat dekat dengan dia juga ikut tenggelam karena acuh.
Bahtera keteguhan diri menyelamatkan dia dan semua makhluk yang berani mengarungi gelombang egoisme dan kesombongan hingga sampai pada titik puncak dimana rasa syukur dan berserah terasa sangat indah.
Kesedihan tiada bisa disembunyikan dari pikiran dan hatinya karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa menyesal berkepanjangan hanya akan membuat kerugian pada dirinya.
Dengan segala kebijaksanaan dia merelakan semuanya dan membangun kembali segala yang telah diperjuangkan bersama dengan mereka yang salamat dari terjangan gelombang dahsyat demi sampai pada tujuan dengan keadaan hati yang telah selesai.
Banyuwangi, 03 Maret 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...