Langsung ke konten utama

Edisi 26 Kamasudra




Kali ini kita berkesempatan melingkar, silaturahmi, ngaji, di salah satu pondok pesantren didaerah siliragung barurejo tepatnya di ponpes hubburridlo asuhan yai muhsin maturnuwun mas Nurdin Achmad mugi berkah buat semua. Amin
Monggo merapat,
Lingkar Maiyah RAMPAK OSING Banyuwangi
Edisi 26
KAMASUDRA
Kama adalah suatu kata dalam bahasa sansekerta yang berarti hasrat, keinginan, kemauan. Kama seringkali mengacu kepada gairah dan keinginan seksual dalam sastra kontemporer. namun pemahaman konsep itu dapat meluas kepada nafsu, hasrat, semangat, kenikmatan fisiologis, kepuasaan akan seni dan keindahan, kasih sayang atau cinta, dengan atau tanpa konotasi seksual.
Sudra berasal dari bahasa sansekerta yang artinya kasta atau warna dalam agama Hindu di India. Warna ini merupakan warna yang paling rendah. Sudra adalah golongan karya seseorang yang melaksanakan profesinya sepenuhnya mengandalkan kekuatan jasmaniah, ketaatan, kepolosan, keluguan, dan serta bakat ketekunannya. Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya di atasnya. Golongan ini profesinya seperti buruh, tukang, pekerja kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dll.
Kamasudra adalah hasrat dan keinginan mengabdi dengan bidang yang mereka tekuni demi tujuan kemakmuran orang banyak, baik secara umum maupun khusus. Dalam ruang lingkup luas mencakup pengabdian terhadap bangsa dan negara tanpa mengharapkan imbalan apapun. Membuang keegoisan mereka dan sepenuhnya berdaulat pada satu tujuan.
Pada saat ini telah banyak orang-orang yang silih berganti berusaha mengabdikan diri mereka demi kemakmuran. Memikul tanggungjawab besar di pundak mereka demi kemajuan peradaban yang menjadi impian orang banyak. Mungkin niat awal telah tepat tetapi ketika dalam perjalanan menuju tujuan yang telah direncanakan banyak dinamika yang dialami sehingga menyebabkan kerancuan dalam pola fikir manusia.
Dengan ketidak mampuan menjaga niat dan keistiqomahan banyak manusia yang salah memahami peranan dan substansi. Pengabdian yang seharusnya demi kemakmuran orang banyak malah justru dimanipulasi pada keuntungan individu. Bahkan banyak yang tak perduli bagaimana nasib orang disekitarnya, apakah diuntungkan atau dirugikan, apakah kemaslahatan atau kehancuran, selama mereka diuntungkan dengan itu mereka tak akan peduli, itulah yang mereka sebut seleksi alam.
Karena sebab itupun banyak manusia yang tak memahami peranan masing-masing, apakah kita ini berkasta kesatria ataukah sudra. Bagi sebagian besar dari kita, segala hal yg kita lakukan hanya untuk mencari bathi atau keuntungan. Hingga pemimpin pun bukanlah lagi kesatria, hilang nilai martabat dan nilai bebrayan, pegawai yang seharusnya mengabdi untuk negeri malah justru bertingkah semaunya sendiri. Berdagang yang niatnya adalah melayani, bertani niatnya tandur bersenyawa dengan alam, bermasyarakat niatnya bebarayan demi kemaslahatan, dan lain sebagainya semua halal dipolitisir untuk hanya demi memperoleh bathi dan kepuasan individu.
Banyuwangi, 30 Maret 2018.
Contact Person / WhatsApp :
1. 085745592523 : Mas Yongki
2. 085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
1. Website : http://rampakosing.blogspot.com
2. Fanspage : Rampak Osing
3. Instagram : @rampakosing
4. Twitter : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...