Langsung ke konten utama

Edisi 28 Golet Rai


~ GOLET RAI ~
Edisi 28

Golet Rai?, Rai ne ilang ta? Opo Hing duwe rai kok digoleti?
Kadung ngomong golet Rai rasane koyo klendi gedigu..., Diarani golet Alem. Tapi kadung dipikir jeru, mulo Iyo. Lan golet raine dienggo Paran solong.
Kadung dicutdiki sitik-sitik, koyok e golet rai iku... Yo kudu, kadung sing duwe rai Yo... uwong-uwong Podo bingung, masiyo duwe rai hang dianggep elek.
Rai iku keneng dienggo pasemon wujude sifat-sifate hang duwe rai, mangkane kadung wong Osing nguwel wong hang ngelakoni salah mesti ngomong "Raine!", "Raine Hiro ikau!", maksude dikongkon ngocok nang sifat lan kelakuane dewek.
Tujuan uripe menungso Iki kadung dipikir2 hang paling angel Yo goleti raine dewek- dewek, golet sejatining rai, rai hang pas kanggo patrape uripe dewek- dewek, rai hang digawe Ambi Gusti kang nguwasani jyagat.
Goleti raine dewek byawen angele kebacut, nyaling oleh golet raine hang nggawe Rai, ndaneo...Hing nutut uteke, kecuali diduduhi Ambi hang gawe Rai.
Aran rai iku akeh makna e kadung gelem ngonceki, rai artine rojo (byahasa Chamoru), artine mongso kesok (Jepang), Adek (Sundo), tukang njogo hebring (Spanyol), KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artine tukang angon.
Rai iku Yo maceme akeh, Ono rai gedek, rai asu, rai beton... lan sak pinunggalane.
Rai iku ugo perlambange martabyate menungso, harga dirine menungso, mulo kadung ngentut hang isin raine Katon semu-semu abyang.
Tuku lopes kasinen iku rai gedek jare kang Tohar, maksude kepeles kimisinen, Hing ngerumangsani iku rai gedek, marang sopo?, Marang Gusti kang nguwasani jagat.
"Fa walli *wajhaka* satrol Masjidil Haram. Wa fii aina kunta, fawalli *wajhaka* satroHu."

TauApik
Contact Person / WhatsApp :
085745592523 : Mas Yongki
085236999911 : Mas Endy
Media Sosial :
Website    : http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage  : Rampak Osing
Instagram  : @rampakosing
Twitter      : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...