Langsung ke konten utama

Edisi 31 Sitai (siti)



Edisi 31  SITAI (siti)
SITI, siti utowo sitai ( pangucap osing ) iku boso jowo kuno hang artine lemah utowo bumi. Siti ugo dienggo aran kanggo wong wadon hang artine wong wadon kang mulyo ( per-empuan ). Per-empuan kanthi dasar empu, tegese manungso hang jangkep kaweruhe (ahli). 
Sitai ( pangucap osing ), biasane dienggo wadanan ambi wong jowo kulon, si-tai hang maksudte tai. Terus paran hubungane tai ambi lemah? Acake pikiren solong ! Nawi tah nemu jawabane lan biso dadi kunci uripe riko.   Siti/lemah/bumi, parek kaitane ambi tlatah jowo, kelebu ing toto negoro.  Contone " paku bumi, paku buwono, mangku bumi, hamengku buwono, lan sak piturute".
Kiro-kiro paran maksudte yooh?  Ayok di wedar bebyarengan.   Manungso dicipto soko lempung artine lemah hang paling apik. Nanging manungso nduweni patang unsur,  yoiku
1. Geni sifate ngadek/jejeg
2. Angin sifate rubuh
3. Banyu sifate mili
4. Lemah sifate meneng/anteng
Penciptaane manungso ugo dijelasaken ring Al Qur'an, salah sawijine  Serat Al-Hajj ayat 5  فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا  
“……Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….”
Setuhune sopo siro he manungso?  Iki hang kudune awake dewek takokno ring ati.  Mulo, ayo podo mbalik ring sejatine urip, paran iku sejatine urip?  Pepeling jowo  " sangkan paraning dumadi " tegese manungso urip ojo lali soko ngendi asale lan nongdi mulih e  " innalillahi wa innailaihi rojiun ".  Setuhune ingsun kaduwe Gusti Allah lan marang Gusti Allah ingsun mulih. 
Pungkase,  jare paman " Nong sawah nuntun sapi,  Ono gludug nono udane. Dung silah nyandingo kopi Mugo gadug ring tujuane"
Semapot ring ngarep gapuro Isun hang lopot, riko hang gedhe pangapuro. 
Wasalamualaikum. 

Kang Kunir.
Contact Person / WhatsApp : 085745592523 : Mas Yongki / 085236999911 : Mas Endy  Media Sosial :
Website         http://rampakosing.blogspot.com
Fanspage      : Rampak Osing
Instagram      : @rampakosing
Twitter          : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...