Langsung ke konten utama

Edisi 32 Katon Bagaskara



Majelis Masyarakat Maiyah RAMPAK OSING Banyuwangi
Edisi 32
KATON BAGASKORO

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 54

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Maidah : 54)

Sudah sekian lama manusia terjebak dalam kegelapan dilahir maupun batin. Kegelapan itulah yang menutupi segala tentang kenyataan disekitar manusia. sehingga manusia sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dampaknya manusia semakin sulit menentukan posisioning dirinya sendiri. ketika tak dapat menemukan posisi yang tepat dalam segala hal maka setiap keputusan yang diambil akan sangat jauh dari kata presisi.

Bagi kebanyakan manusia masa kini tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang dalam kegelapan. Bahkan mereka tak tau dan tak mau tau tentang kegelapan yang selama ini menyelimuti dirinya. Yang mereka tau hanyalah mencari keuntungan dari setiap hal yang dilakukan, tak peduli apakah yang mereka lakukan merugikan atau menguntungkan bagi sekitarnya.

Dimata manusia masa kini keuntungan adalah segalanya sehingga kegelapan pun terasa terang benderang ketika keinginan mereka bisa tercapai. Mereka tak segan menghalalkan segala cara, memanipulasi keburukan menjadi kebaikan hanya untuk memuaskan hasratnya. Tidak ada satu pun yang mereka takuti, bahkan nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan mereka abaikan karena kesadaran dan hati mereka telah tertutup oleh kesombongan.

Kesombongan manusia masa kini telah melampaui batas. Mereka berani mengatur juga menentukan tuhannya sendiri, dan pucak kesombongannya adalah menganggap dirinya tuhan. Sehingga mereka merasa pantas menentukan yang benar dan yang salah atas diri mereka sendiri juga manusia yang lain.

Kegelapan telah menutupi hati dan fikiran manusia masa kini, membuat manusia terlena dan lalai akan tugasnya sebagai kholifah fil ard. Yang terjadi hanyalah perlombaan tipu daya, saling menjatuhkan satu sama lain untuk memperoleh pengakuan dan dipuja-puja oleh pengikutnya.

Ditengah pemberhalaan masal yang terjadi ternyata ada rencana lain dari Sang Maha Kuasa. Saat manusia sibuk melakukan perlombaan "Talbis" untuk saling mengungguli satu sama lain, Alloh SWT mempersiapkan kelahiran generasi baru dengan dibekali kesadaran untuk melakukan pembaharuan terhadap keadaan disekitarnya. Seperti mentari fajar yang datang membawa cahaya untuk menyibak kegelapan yang menutupi alam semesta.

Generasi baru telah terlahir ditengah ekosistem yang rusak, datang bersama kesadaran dan hidayah dari Alloh untuk kembali melaksanakan tugas sebagai kholifah fil ard. Generasi baru inilah yang akan membuat pembaharuan ekositem dengan satu alasan dan satu tujuan yaitu Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Banyuwangi, 22 Oktober 2018

Contact Person / WhatsApp :
085749209995 : Mas Yongki
085236999911 : Mas Endy

Media Sosial :
Fanspage : RampakOsing
Instagram : @rampakosing
Twitter : @RampakOsing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 34 Bebrayan Agung

Majelis Masyarakat Maiyah Rampak Osing Banyuwangi   edisi 34 BEBRAYAN AGUNG   ( Babakan jatidiri ) “Wong Jowo ilang jawane”, unen-unen ini sudah sangat familiar di telinga kita. Secara harfiah kita sebagai orang Jawa tentu bisa memahami maknanya bahwa kebanyakan kita sebagai manusia Jawa tidak lagi njawani, tidak mencerminkan diri kita sebagai orang Jawa seutuhnya. Entah itu secara budaya, secara bahasa, secara etika, maupun secara keluhuran budi. Akan tetapi mungkin banyak di antara kita yang tidak memahami filosofi, sejatining esensi kalimat ini. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sejak dulu memiliki peradaban luhur. Coba kita pelajari sejarah leluhur kita, bangsa Jawa. Peradaban dan tatanan kehidupan mereka sudah sangat maju. Jauh lebih maju dari yang kita pelajari selama ini. Apa yang disuguhkan oleh catatan sejarah maistream hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kemajuan peradaban dan kebudayaan nenek moyang kita. Bahkan sebagian kecil itu sudah banyak...

Edisi 16 Pakunjaran

PAKUNJARAN Ramadhan mubarak, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan pendek yang sering kita temui di berbagai media saat menjelang dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi apakah benar kita sudah sepenuhnya menginsafi ungkapan-ungkapan kita dengan lelaku, atau hanya sekedar jargon yang kita lafadzkan, atau justru lebih naif hanya ungkapan yang kita tulis atau kita  baca tanpa benar-benar memahami maksud dari tulisan tersebut? Sebuah kalimat yang diucapkan tanpa kesadaran adalah perbuatan ndeleming, apalagi tanpa dibarengi dengan lelaku, maka itu disebut ndeleming tanpa amal. Ilmu yang tak berwujud pada perbuatan. Tapi kita kan sudah berpuasa, bukankah itu berarti kita sudah mewujudkannya dalam perbuatan? Ya, kita memang sudah melakukan ‘ritual’ puasa secara lahir, tapi apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita dari syahwat? Padahal, yang terpenting untuk diperhatikan agar kita benar-benar bisa merasakan keberkahan Ramadhan adalah mempuas...

Edisi 27 Al Ngadatu Muhakamah

AL NGADATUL MUHAKAMAH Edisi 27 Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan , kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah. Adat dapat bermula dari seorang yang ditokohkan pada suatu daerah tertentu, yang mengajarkan hal baru untuk menentukan tatanan yang lebih baik sehingga diterima, disepakati dan mampu dijalankan oleh masyarakat setempat. Selain itu adat juga bisa ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat tentang suatu hal untuk tujuan kemaslahatan bersama. Ketika adat telah disepakati dan berlangsung maka ia akan disebut sebagai adat-istiadat. Adat-istiadat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berlaku pada suatu daerah tertentu. Jika adat istiadat telah mengakar pada masyarakat maka timbulah kecenderungan yang sangat kuat untuk mengikutinya. Karena itulah mau tidak mau setiap orang harus patuh terhadap adat istiadat yang berlaku. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi keran...